Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan

sparkbelove:

Pangeran Wangsakerta

Originally posted on Artshangkala:

9 September 1984

Oleh : Ayatrohaedi

1. Pengantar

Pangeran Wangsakerta dari Cirebon mungkin merupakan orang Indonesia yang pertama kali berusaha menyusun sejarah bangsanya selengkap mung­kin. Untuk keperluan penyusunan “buku induk” sejarah itu, ia melaku­kan hal-hal positif yang bahkan menurut penilaian orang Indonesia se­karang masih terlalu “ilmiah” sehingga diragukan (Ayotrohaedi 1981). Apalagi karena secara kebetulan usaha untuk lebih memperkenalkannya baru dilakukan setelah muncul ihwal pemalsuan catatan harian Adolf Hitler di Jerman. Apakah naskah yang disusun Pangeran Wangsakerta dan kawan-kawannya, juga hanya karya orang iseng setelah tahun 1950? Usaha memperkenalkan karyanya, walaupun sedikit demi sedikit, sudah dilakukan sejak tahun 1981 yang lalu (Ayatrohaedi 1981, 1981a, 1983, 1983a, 1983b, 1983c, 1983d, 1983e, 1983f, 1983g, 1984, 1984a, 1984b; Yoseph Iskandar 1983, Saleh Danasasmita 1982) sedemikian jauh, jus­tru usaha untuk memperkenalkan sang sejarawan sendiri belum pernah dilakukan. Tulisan inipun, yang sebenarnya dimaksudkan sebagai salah satu usaha awal untuk menyiasati kehidupan sang sejarawan itu, akhir­nya juga…

View original 2.325 more words

POSTMODERNISM

POSTMODERNISME
A. Pengertian
Postmodernisme adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernisme-nya. Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuat teori, namun justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal. Banyak tokoh-tokoh yang memberikan arti postmodernisme sebagai kelanjutan dari modernisme. Namun kelanjutan itu menjadi sangat beragam. Bagi Lyotard dan Geldner, modernisme adalah pemutusan secara total dari modernisme. Bagi Derrida, Foucault dan Baudrillard, bentuk radikal dari kemodernan yang akhirnya bunuh diri karena sulit menyeragamkan teori-teori. Bagi David Graffin, Postmodernisme adalah koreksi beberapa aspek dari moderinisme. Lalu bagi Giddens, itu adalah bentuk modernisme yang sudah sadar diri dan menjadi bijak. Yang terakhir, bagi Habermas, merupakan satu tahap dari modernisme yang belum selesai.
B. Etimologi
Berdasarkan asau usul kata, Post-modern-isme, berasal dari bahasa Inggris yang artinya faham (isme), yang berkembang setelah (post) modern. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari moderninsme. Kemudian pada bidang Sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of History pada tahun 1947. Setelah itu berkembanga dalam bidang-bidang lain dan mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri-sendiri.
Postmodernisme dibedakan dengan postmodernitas, jika postmodernisme lebih menunjuk pada konsep berpikir. Sedangkan postmodernitas lebih menunjuk pada situasi dan tata sosial sosial produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya negara dan bangsa serta penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi. Hal ini secara singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme dan sekularisme.
Setidaknya kita melihat dalam bidang kebudayaan yang diajukan Frederic Jameson, bahwa postmodernisme bukan kritik satu bidang saja, namun semua bidang yang termasuk dalam budaya. Ciri pemikiran di era postmodern ini adalah pluralitas berpikir dihargai, setiap orang boleh berbicara dengan bebas sesuai pemikirannya. Postmodernisme menolak arogansi dari setiap teori, sebab setiap teori punya tolak pikir masing-masing dan hal itu berguna.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Postmodernisme
• Bambang Sugiharto., Postmodernisme – Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996
• Joas Adiprasetya., Mencari dasar bersama: etik global dalam kajian postmodernisme dan pliuralisme agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002

TEORI MANUSIA BESAR

TEORI MANUSIA BESAR

Teori tentang manusia – manusia besar yang mengubah sejarah di kemukakan oleh Thomas Carlyle. “Aku katakan bahwa manusia besar selalu seperti yang membela langit, dan manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar”. Inilah teori manusia – manusia dari Thomas Carlyle. Jadi, manusia besar seperti percikan api yang membakar kayu bakar kemudian meledak dan mengubah sejarah dalam waktu yang singkat.

Thomas Carlyle memandang sejarah sebagai biografi dari manusia – manusia besar. Dia mengatakan, sejarah universal merupakan sejarah apa yang telah di capai oleh umat manusia di dunia dan pada dasarnya adalah sejarah manusia besar yang sudah bekerja di dunia. Lebih lanjut, Carlyle mengatakan bahwa manusia besar adalah jiwa dari seluruh umat manusia.

Dapatkah anda bayangkan sejarah dunia tanpa Kristus? Mungkinkah terjadi perubahan besar dalam sejarah umat manusia sekiranya Muhammad Saw tidak lahir? Mungkinkah perang dunia kedua meledak jika Hitler tidak berambisi untuk menaklukan Eropa? Mungkinkah Uni soviet bubar dan komunisnya bangkrut jika Gorbachev tidak mengambil keputusan yang berani? Mungkinkah Orde baru berkuasa selama 32 tahun jika soeharto tidak mau menerima supersemar?

Kita akan menjawab tidak! Keputusan yang di ambil oleh para tokoh itu telah mengubah sejarah. Kemauan dan tindakan mereka telah menimbulkan dampak besar pada jutaan umat manusia. Individulah yang mengubah masyarakat, bukan sebaliknya..

Thomas Carlyle, filosof dan sejarahwan Skotlandia merumuskan teori heroic determinism sebagai berikut : “ pada seluruh babakan sejarah dunia, kita akan menemukan manusia besar sebagai juru selamat yang niscaya di zamannya; sebagai sambaran kilat yang tanpa itu bahan bakar tidak akan terbakar. Sejarah dunia… hanyalah biografi manusia besar”. Pada tempat lain ia menulis “ sejarah alam, sejarah apa yang telah di lakukan manusia di dunia ini, pada dasarnya adalah sejarah manusia besar yang telah bekerja di sini.

Ada dua hal yang menyebabkan seseorang menjadi manusia besar : kekuatan intelektual untuk memahami realitas dan kemampuan bertindak yang tepat. Seorang manusia besar yang mengubah sejarah memang bukan hanya seorang filosof, yang bergulat dalam konsep dan gagasan besar. Ia harus dapat menangkap realitas.

Dalam teori Thomas Carlyle, seorang manusia besar adalah intelektual universal dan mengubah manusia sejagat. Perubahan yang terjadi juga bukan semata – mata karena kemampuan intelektualnya, melainkan lebih banyak karena kemampuan bertindaknya. Ketika manusia besar itu bertindak, ia di tanggapi, dibalas dan di sambut oleh masyarakat luas, atau massa yang besar dan setia. “ kita semua mencintai manusia besar; mencintai, menghormati dan merunduk pasrah di hadapan manusia besar”. Masyarakat di tegakkan di atas pemujaan pahlawan.

 

Islam, IPTEK dan Seni

BAB I
PENDAHULUAN

 

Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam kehidupan umat manusia. Martabat manusia disamping ditentukan oleh peribadahannya kepada Allah, juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Bahkan di dalam al-Quran sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang benar-benar takut kepada Allah.

Dialog antara Allah dengan malaikat ketika Allah akan menciptakan manusia, dan malaikat mengatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan  darah, Allah membuktikan keunggulan manusia daripada malaikat dengan kemampuan manusia menguasai ilmu melalui kemampuan menyebutkan nama-nama.

Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam praktek mampu mengangkat harkat dan martabat manusia karena malalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, manusia mampu melakukan eksplorasi kekayaan alam yang disediakan oleh Allah. Karena itu dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, nilai-nilai islam tidak boleh diabaikan agar hasil yang diperoleh memberikan kemanfaatan sesuai dengan fitrah hidup manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM

 

  1. 1.    Pengertian IPTEKS

 

Berdasarkan sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dan ilmu pengetahuan mempunyai makna yang berbeda. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui pancaindra. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun, diklasifikasikan, dan diverifikasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Dalam Al-Quran ilmu digunakan dalam proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan.

Teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologi terletak pada sudut pandang budayanya karena teknologi termasuk salah satu unsur budaya dan hasil dari penerapan praktis ilmu pengetahuan. Sebuah teknologi dapat berdampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta jika kita atau seorang ilmuan tidak menerapkannya secara fungsional. Sedangkan dampak positifnya berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia.

Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya, seni juga merupakan ekspresi jiwa seseorang kemudian hasil ekspresi jiwa tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya manusia, karena seni itu diidentik dengan keindahan, keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian.
Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang  kematangan jiwanya terus bertambah.

Islam sebagai agama yang mengandung aturan, moral, aqidah dan syariah, senantiasa mengukur sesuatu (benda-benda, karya seni, aktivitas) dengan pertimbangan-pertimbangan ketiga aspek tersebut. Oleh karena itu, seni yang bertentangan atau  merusak moral, akidah dan syariat, tidak akan diakui sebagai sesuatu yang bernilai seni. Dengan demikian, semboyan seni untuk seni tidak dapat diterima dalam islam.

 

  1. 2.    Syarat-syarat Ilmu

 

Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan. Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu apabila memenuhi tiga unsur pokok sebagai berikut:

1)   Ontologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki obyek studi yang jelas. Obyek studi harus dapat diidentfikasikan, dapat diberi batasan, dapat diuraikan, sifat-sifatnya yang esensial. Obyek studi sebuah ilmu ada dua yaitu obyek material dan obyek formal.

2)   Epistimologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki metode kerja yang jelas. Ada tiga metode kerja suatu bidang studi yaitu metode deduksi, induksi dan induksi.

3)   Aksiologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki nilai guna atau kemanfaatannya. Bidang studi tersebut dapat menunjukkan nilai-nilai teoritis, hukum-hukum, generalisasi, kecenderungan umum, konsep-konsep dan kesimpulan-kesimpulan logis, sistematis dan koheren. Dalam teori dan konsep terseubut tidak terdapat kerancuan atau kesemerawutan pikiran, atau penetangan kondtradiktif diantara satu sama lainnya.

 

  1. 3.    Sumber Ilmu Pengetahuan

 

Dalam pemikiran Islam ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, karena manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntutan al-Qur’an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) dan tingkat kebenarannya bersifat mutlak (absolute) karena bersumber dari wahyu Allah dan ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya bersifat nisbi (relative) karena bersumber dari akal pikiran manusia.

Maka dari itu tidak ada istilah final dalam suatu produk ilmu pengetahuan, sehingga setiap saat selalu terbuka kesempatan untuk melakukan kjian ulang atau perbaikan kembali. Kedua sumber ilmu tadi akan dijelaskan sebagai berikut:

1)   Sumber ilmu dari Allah SWT atau Wahyu

Ilmu yang bersumber pada agama atau Allah SWT diturunkan kepada manusia melalui para Rasul-Rasul Allah, berupa wahyu Allah yang diabadikan dalam kitab suci masing-masing diantaranya:

  1. Zabur (mazmur), kitab Nabi Daud as.
  2. Taurat (thorah),  kitab Nabi Musa as.
  3. Injil, kitab Nabi Isa al-masih as.
  4. Al-Quranul karim, kitab Nabi Muhammad SAW.

2)   Sumber ilmu dari akal atau Filsafat

Semua ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang ini bersumber dari Filsafat (Philosophia), yang dianggap sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan. Filsafat pada masa itu mencakup pula segala pemikiran mengenai masyarakat. Lama-kelamaan sejalan dengan perkembangan zaman dan tumbuhnya peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat, memisahkan diri dan berkembang mengejar tujuan masing-masing. Dalam islam kita juga mengenal banyak ilmuwan-ilmuwan atau para filosof misalnya, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali adalah tokoh islam dalam bidang ilmu fiqih, Abu Hasan Al Asy’ari adalah tokoh ilmuwan muslim di bidang ilmu tauhid, Imam Ghazali adalah tokoh yang terkenal dalam bidang ilmu tafsir, ilmu fiqih, ilmu filsafat, dan ilmu akhlak, Ibnu Sina adalah tokoh dalam bidang kedokteran dan filsafat, Al Biruni adalah ahli dalam ilmu fisika dan ilmu astronomi, Jabir ibn Hayyan adalah ahli kimia dari kalangan kaum muslimin, Al Khawarizmi di bidang matematika dan Al Mas’udi yang terkenal sebagai ahli geografi serta sejarah.

Dari berbagai ragam ilmu pengetahuan yang berinduk dari filsafat tersebut pada garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

  1. Ilmu-ilmu Alamiah (Natural Sciences), yang meliputi fisika, kimia, astronomi, biologi, botani dan sebagainya.
  2. Ilmu-ilmu Sosial (Social Sciences), yang terdiri dari sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, politik, sejarah, hukum dan sebagainya.
  3. Ilmu-ilmu budaya (Humanities), yang terdiri dari cinta kasih, agama, ilmu, budaya, kesenian, bahasa, kesusastraan dan sebagainya.
  4. 4.    Integrasi Iman, Ipteks dan Amal

 

Dalam pandangan Islam, agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni mempunyai hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem Dienul Islam (agama islam). Dalam Al-Quran surat Ibrahim: 24-25, Allah telah memberian ilustrasi indah tentang integrasi antara iman, ilmu dan amal. Unsur tersebut mengumpamakan bangunan Islam seperti sebatang pohon yang kokoh. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah  pohon  yang  menopang  tegaknya ajaran Islam. Ilmu diidentikkan dengan batang  pohon  yang  mengeluarkan cabang-cabang  ilmu pengetahuan. Sedangkan teknologi dan seni ibarat buah dari pohon itu. Pengembangan IPTEKS yang terlepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan menghasilkan manfaat bagi umat manusia dan alam lingkungannya bahkan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar  keimanan dan  ketakwaan  kepada  Allah akan memberikan  jaminan  kemanfaatan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya serta mencerminkan suatu ibadah dalam prektiknya. Semua satu kesatuan tersebut tidak lepas dari sumber-sumber kebenaran ilmiah dimana ada sebuah keterkaitan Al-Quran dan Alam Semesta.

  1. 5.    Batasan pengembangan IPTEKS dalam islam

 

  1. Al-Quran
  2. Hadist
  3. Ijtihad

Orang yang melakukan ijtihadnya dengan benar (para mujtahid) akan mendapat dua pahala.

Seni akan menjadi haram jika:

  1. Seni suara dan seni musik (membuat orang lupa akan Allah), Al-Khamr (minuman arak) , dan al-qainat (penyanyi cabul).
  2. Seni rupa (gambar, terutama patung), yang ada hubungannya dengan jiwa kemusyrikan dan penyembahan berhala. Pelukisan Tuhan merupakan menyekutukanNya sehingga itu merupakan kesenian yang diharamkan.
  1. 6.    Keutamaan Orang Berilmu dan Beramal

 

Perbuatan baik seseorang tidak akan  bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Sama halnya dengan perkembangan IPTEKS yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, kesempurnaannya karena dibekali seperangkat potensi. Potensi yang paling utama adalah akal. Dan akal tersebut berfungsi untuk berpikir hasil pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT, akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya. Allah berjanji dalam Q.S 58(Al-Mujadalah):11:

دَرَجَاتٍالْعِلْمَأُوتُوا وَالَّذِينَ مِنْكُمْآَمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ يَرْفَعِ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Menurut Al-Gazhali bahwa makhluk yang paling mulia adalah manusia, sedangkan sesuatu yang paling mulia pada diri manusia adalah hatinya, tugas utama pendidik adalah menyempurnakannya, membersihkan dan mengiringi peserta didik agar hatinya selalu dekat kepada Allah swt, melalui perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, para pendidik akan selalu dikenang oleh anak didiknya. Kemudian al-Gazhali memberikan argumentasi yang kuat, baik berdasarkan al-Qur’an as Sunnah, maupun argumentasi secara rasional. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa mengajarkan ilmu bukan hanya  termasuk aspek ibadah kepada Allah swt, melainkan juga termasuk khalifah Allah swt, karena hati orang alim telah dibukakan oleh Allah SWT. Keutamaan orang yang berilmu menurut Al-Ghazali :

-       Bagaikan matahari, selain menerangi dirinya juga penerang orang lain.

-       Bagaikan minyak kasturi yang selalu menyebarkan keharuman bagi orang yang berpapasan dengannya.

  1. 7.    Tanggung jawab Ilmuwan Terhadap Lingkungan

Pada hakikatnya manusia dan alam itu satu, dan berada dibawah hokum serta aturan yang satu yaitu hukum alam. Kemudian gunung, daratan, padang pasir, sungai, hutan, danau, semuanya itu hanyalah bagian dari alam saja. Ketika manusia berbuat baik terhadap lingkungannya berarti baik pula terhadap dirinya sendiri, dan sebaliknya. Para ilmuan tidak hanya memegang tanggungjawab terhadap permasalahan sosial namun juga tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Dalam dimensi etis atau religious seorang ilmuan hendaknya tidak melanggar kepatutan berdasarkan keilmuan yang ditekuninya. Karena tanggung jawab ilmuwan merupakan ikhtiar mulia sehingga seorang ilmuwan tidak mudah tergoda, apalagi tergelincir untuk menyalahgunakan ilmu yang dapat merusak kehidupan alam.

Allah memberikan kita alam dengan potensi yang melimpah yang bisa kita pakai untuk kebutuhan rohani, kebutuhan lahiriah namun di sisi lain Allah juga memerintahkan kita untuk mengembangkannya, tetap menjaga eksistensinya guna memenuhi kebutuhan anak cucu kita selanjutnya. Mengabdi kepada AllahSWT dapat dilakukan beberapa cara, yaitu:

  1. Mengabdi langsung kepada Allah (vertikal)

 

  1. Menjaga hubungan sesama manusia (horizontal)

 

  1. Dan hubungan kita dengan alam sekitar (diagonal).

 

Ada dua fungsi utama manusia di dunia, yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan khalifah fil ardhi. Essensi dari abdun adalah ketaatan kepada Allah, dan essensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya. Manusia sebagai khalifah bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya, mengeksplorasi sumberdaya alam untuk sesuatu yang bermanfaat. Oleh karena itu, tanggung jawab kekhalifahan banyak bertumpu pada ilmuwan dan para intelektual yang mampu memanfaatkan sumber daya alam ini.

BAB III

KESIMPULAN

Ilmu pengetahuan dalam Al-Qur‟an adalah proses pencapaian segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra sehingga memperoleh kejelasan. Teknolgi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan yang obyektif. Seni adalah hasil ungkapan akal budi serta ekspresi jiwa manusia dengan segala prosesnya. Seni identik dengan keindahan dimana keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Apabila manusia berlaku  adil dengan semua makhluk  hidup dalam ini, maka disinilah letak kebenaran norma moral yang baik karena manusia hidup tidak hanya untuk beribadah kepada Allah akan tetapi, menjalin hubungan baik kepada sesama manusia dan menjaga hubungan harmonis dengan alam sehingga terdapat hubungan timbal balik yang selaras. Dalam pandangan Islam, antara iman, ilmu pengetahuan, teknologi danseni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yang disebut Dienul Islam.

Pengembangan IPTEKS yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan manfaat bagi umat manusiadan alam lingkungannya. Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu dan amarah. Karena pada dasarnya Manusia mendapat amanah dari Allah sebagai khalifah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan potensinya untuk kepentingan umat manusia. Oleh karena itu perlunya keimanan sebagai pelengkap ilmu dalam penerapannya bukan hanya menghasilkan keuntungan satu sisi saja.

DAFTAR PUSTAKA

Perkuliahan Pengantar Sosiologi

BAB I

Definisi Sosiologi

Apa sih Sosiologi itu? Sosiologi berasal dari kata “Socio” dan “Logos” yang memiliki arti “Ilmu Masyarakat”.

  • Roucek and Warren

Ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok kelompok.

  • Selo Soemardjan & Soelaiman Soemardi

Ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses proses sosial, termasuk perubahan perubahan sosial.

  • William F. Ogburn dan Meyer F Nimkoff

Ilmu sosiologi mempelajari interaksi dan hasilnya yaitu organisasi sosial.

  • J.A.A. van Doorn dan C.J. Lammers

Ilmu sosiologi mempelajari struktur struktur dan proses kemasyarakatan.

Sosiologi Memenuhi Syarat Sebagai Ilmu Pengetahuan, yaitu :

  • Pengetahuan dari hasil penginderaan dan tersusun secara sistematis serta unsur-unsurnya tersusun sbg suatu kesatuan.
  • Menggunakan pemikiran (otak/olah pikir/penalaran) dan hasilnya dapat dikontrol orang lain.

Sosiologi sebagai Ilmu Yang Berdiri sendiri, dengan ciri-ciri utamanya :

  1. 1.    Bersifat Empiris dan rasional

Artinya  sosiologi mendasarkan diri pada hasil observasi dan keadaan keadaan yang nyata ada dalam masyarakat serta menggunakan pemikiran yang logis dan akal sehat dan  tidak spekulatif.

  1. 2.    Bersifat Teoritis

Artinya  Sosiologi selalu berusaha menyusun abstraksi hasil observasi  secara logis untuk menjelaskan hubungan antar gejala (sebab akibat) sehingga tersusun suatu  teori.

 

 

  1. 3.    Bersifat Kumulatif

Artinya teori sosiologi dibentuk atas dasar teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki,memperhalus dan memperluas teori yang lama.

  1. 4.    Berifat non ethis

Artinya sosiologi tidak mempersoalkan baik buruknya  fakta sosial tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta sosial tersebut secara analitis, kritis dan obyektif.

Sifat dan Hakekat Sosiologi :

  1. 1.    Sebagai ilmu sosial

Yang membahas gejala gejala kemasyarakatan, dimana dalilnya bersifat relatif (bisa berubah). Berbeda dengan  ilmu alam, kimia, fisika dan biologi yang rumusnya pasti dan tidak bisa berubah.

  1. 2.    Sebagai disiplin Kategori

Artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini, dan bukan yang seharusnya terjadi. Sosiologi dapat menetapkan masyarakat pada suatu waktu dan tempat memiliki nilai tertentu tetapi tidak dapat ditentukan bagaimana nilai-nilai tersebut seharusnya.

  1. 3.    Sebagai Ilmu Pengetahuan Murni

Artinya  sosiologi bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu secara abstrak hanya untuk mempertinggi kualitasnya, dan tidak dimaksudkan untuk digunakan. Sosiologi  bertujuan  untuk menemukan fakta-fakta masyarakat yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam masyarakat.

  1. 4.    Sosiologi sebagai ilmu yang abstrak dan bukan konkret

Artinya sosiologi memperhatikan bentuk dan pola pola peristiwa yang terjadi dalam masyarakat , tetapi bukan dalam wujud yang konkret.

  1. 5.    Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum

Sosiologi melalui penelitiannya berusaha untuk mencari prinsip ataupun hukum-hukum umum dari hasil interaksi antar manusia, bentuk, fungsi dan struktur masyarakat.

 

  1. 6.    Sosiologi Sebagai Ilmu Pengetahuan yang Empiris dan Rasional

Artinya Sosiologi mendasarkan diri pada hasil observasi/penelitian terhadap kenyataan dengan metode tertentu dan menggunakan akal sehat

  1. 7.    Sosiologi  Merupakan ilmu Pengetahuan Umum

Artinya sosiologi mempelajari gejala umum yang muncul dari setiap interaksi yang terjadi antarmanusia. Sosiologi mempelajari faktor-faktor sosial dalam semua bidang kehidupan. Misalnya: keluarga, politik, hukum, agama, ekonomi, organisasi, gender, industri, pendidikan,  dll

Sejarah ringkas Sosiologi

Tokoh yang dianggap sebagai bapak Sosiologi adalah Auguste Comte seorang ahli filsafat dari Perancis(1798-1853).Bukunya yang berjudul Positive Philosophy terbit tahun 1838.Dalam buku inilah istilah sosiologi pertama kali dikenalkan. Comte membedakan sosiologi menjadi 2 yaitu sosiologi statis dan dinamis.

  1. 1.    Sosiologi Statis

Memusatkan perhatian pada hokum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Studi ini merupakan semacam anatomi sosial yang mempelajari aksi reaksi timbal balik dari sistem sosial. Cita-cita dasar sosiologi statis adalah bahwa semua gejala sosial saling berkaitan.

  1. 2.    Sosiologi Dinamis

Merupakan teori tentang perkembangan dalam arti pembangunan. Sosiologi menggambarkan perkembangan manusia yang terjadi dari tingkat intelligensia rendah ke tingkat lebih tinggi. Comte yakin masyarakat akan berkembang  menuju kesempurnaan, melalui:

ü tahap teologis atau fiktif (manusia menafsirkan gejala secara teologis dengan kekuatan roh)

ü tahap metafisik (tiap gejala memiliki kekuatan yang akhirnya akan terungkap ta verifikasi)

ü tahap positive dinama ilmu pengetahuan memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat.

Setelah A.Comte, perkembangan sosiologi dapat dikelompokkan ke dalam mazhab antara lain :

  1. 1.    Mazhab Geografi dan Lingkungan

Luckle dan Le Play

Masyarakat dapat berkembang bila ada tempat berpijak dan tempat hidup

  1. 2.    Mazhab Organis dn Evolusioner

Herbert Spencer

Melakukan analogi antara masyarakat manusia dengan organisme manusia.

W.G. Sumner

Mengenai kebiasaan sosial yang timbul secara tidak sadar dalam masyarakat

Emile Durkheim

Unsur baku dalam masyarakat adalah solidaritas (mekanis: belum ada pembagian kerja; organis: ada pembagian kerja dan spesialisasi)

Tonnies

Bagaimana warga kelompok mengadakan hubungan dengan sesamanya dasar hubungan tsb menentukan bentuk kehidupan sosial tertentu (Gemeinschaft dan gesellschaft)

  1. 3.    Mazhab Formal

George Simmel

Untuk menjadi warga masyarakat perlu mengalami proses individualisasi dan sosialisasi tanpa menjadi warga masyarakat tidak mungkin akan mengalami proses interaksi antara individu dan kelompok

Leopold von Wiese

Sosiologi memusatkan perhatian pada hubungan antarmanusia tanpa mengaitkan dengan tujuan dan kaidah untuk menjadi warga masyarakat perlu mengalami proses individualisasi dan sosialisasi tanpa menjadi warga masyarakat tidak mungkin akan mengalami proses interaksi antara individu.

  1. 4.    Mazhab Psikologi

Gabriel Tarde

Gejala sosial mempunyai sifat psikologis terdiri dari interaks jiwa-jiwa individu (terdiri dari kepercayaan dan keinginan)

 

Richard H Cooley

Individu dan masyarakat saling melengkapi, individu akan menemukan bentuknya di dalam masyarakat.

  1. 5.    Mazhab Ekonomi

Karl Marx

Menggunakan sejarah dan filsafat tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju keadilan sosial. Selama masyarakat masih terbagi atas kelas akan terhimpun pada kelas yang berkuasa selama masih ada kelas yang berkuasa, maka tetap terjadi eksploitasi terhadap kelas yang lemah.

Max Weber

Semua bentuk organisasi sosial harus diteliti menurut perilaku warganya. tipe ideal aksi sosial:

ü Aksi yang bertujuan, tingkah laku yang ditujukan untuk mendapatkan hasil yang efisien.

ü Aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, perbuatan untuk merealisasikan dan mencapai tujuan.

ü Aksi tradisional menyangkut tingkah laku yang melaksanakan suatu aturan yang bersanksi.

ü Aksi emosional, yang menyangkut perasaan seseorang.

  1. 6.    Mazhab Hukum

Emile Durkheim menaruh perhatian pada hukum yang dihubungkan dengan jenis solidaritas.

ü Solidaritas mekanis terdapat kaidah hukum dengan sanksi represif yang berakibat penderitaan, menyangkut kemerdekaan, kehormatan dan masa depan warga masyarakat (hukum pidana).

ü Solidaritas organis yang terdapat kaidah hukum dengan sanksi restitutif yang tujuannya mengembalikan keadaan dalam situasi semula (hukum perdata, dagang, acara, administrasi)

Max Weber

Mempelajari pengaruh faktor politik, agama dan ekonomi terhadap perkembangan hukum. Ideal hukum:

ü Hukum irasional dan materiil, pembentuk UU dan hakim mendasarkan keputusan pada nilai rasional tanpa menunjuk suatu kaidah.

ü Hukum irasional dan formal, berpedoman pada kaidah di luar akal dan didasarkan pada ramalan.

ü Hukum rasional dan materiil, keputusan menunjuk pada kitab suci, kebijakan penguasa atas ideologi.

ü Hukum rasional dan formal, hukum dibentuk semata-mata atas dasar konsep-konsep abstarksi dari hukum.

Metodologi dalam Sosiologi antara lain sebagai berikut :

  • Metode Kuantitatif

Artinya sosiologi menggunakan data/informasi berupa angka-angka, sehingga gejala yang diteliti dapat diukur dengan menggunakan skala, indeks, tabel-tabel dan formula formula yang menggunakan ilmu pasti atau matematika.

  • Metode Kualitatif

Mengutamakan data/informasi yang sulit dapat diukur dengan angka angka atau ukuran yang bersifat eksak. Misalnya data yang berkenaan dengan wacana , makna dan  konstruksi  sosial  yang perlu pemahaman (verstehen).

 BAB II

Masyarakat

Masyarakat adalah sekelompok orang yang tinggal bersama dalam waktu yang lama dan menghasilkan kebudayaan atau Sekumpulan orang atau individu yang di dalamnya terdapat interaksi, tinggal di suatu tempat dalam waktu yang lama, diikat oleh norma-norma, menghasilkan kebudayaan serta menghasilkan struktur sosial.

Kebudayaan menurut Joyowiguno :

ü Cipta

Menggunakan pengalamannya untuk perkembangan Ilmu Pengetahuan dan tehnologi.

ü Rasa

Adanya kerinduan akan keindahan yang menghasilkan sebuah seni.

ü Karsa

Adanya sebuah ekspresi untuk mencari jati dirinya.

Karena itu ciri-ciri masyarakat adalah :

  1. Pengelompokan (agregasi) orang
  2. Tinggal bersama dalam waktu yang lama
  3. Menghasilkan kebudayaan
  4. Spesialisasi peran
  5. Komunikasi

Pendekatan/Perspektif dalam Sosiologi :

  1. 1.    Perspektif Evolusionis

Sebagai perspektif paling awal dalam sosiologi. August Comte dan Herbert Spencer mengatakan perspektif ini menjelaskan bagaimana masyarakat berkembang dan tumbuh. Para Sosiologi pengikut perspektif ini dengan mencari pola perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda, apakah ada urutan umum yang ditemukan. Misal: Apakah pengaruh industrialisasi terhadap keluarga di negara maju sama dengan di negara sedang berkembang.

  1. 2.    Perspektif Interaksionis

Perspektif ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat, karena istilah “masyarakat”, “negara”, dan “lembaga masyarakat” adalah abstraksi konseptual. Sementara yang dikaji adalah orang-orang dan interaksinya. Para ahli teori ini (GH. Mead,CH Cooley) memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok, menggunakan simbol. Manusia tidak bereaksi terhadap dunia secara langsung, tetapi bereaksi terhadap makna yang dihubungkan dengan benda atau kejadian di sekitarnya.

  1. 3.    Pendekatan Interaksi Simbolik

Pendekatan ini menekankan pentingnya  ‘makna sosial’ (social meanings) dari perilaku manusia yang melekat pada dunia sekitarnya. Manusia bertindak terhadap sesuatu/orang berdasarkan bagaimana mereka memberi makna terhadap sesuatu/orang tersebut. ‘Makna’ merupakan produk social yang muncul dari interaksi. ‘Social Actor’ (pelaku social) memberikan makna melalui proses interpretasi. Penafsiran merupakan sesuatu yang esensial yang mempengaruhi ‘definisi sosial’. ‘Konsep diri’ merupakan definisi yang diciptakan melalui interaksi dengan orang lain.Untuk mempelajari tingkah laku manusia perlu memahami system makna yang diacu oleh manusia yang dipelajari. Prinsip-Prinsip interaksionisme simbolik antara lain :

  • Manusia, tidak seperti hewan rendah lainnya, diberkahi dengan kapasitas berakal.
  • Kapasitas untuk berpikir itu terbentuk karena interaksi sosial.
  • Didalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol-simbol yang membuatnya dapat melakukan kapasitas berpikir sebagai manusia.
  • Arti dan simbol membuat manusia melakukan tindakan dan interaksi manusia secara berbeda.
  • Manusia mampu memperbarui atau mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan berinteraksi atas dasar interpretasi mereka terhadap keadaan.
  • Manusia dapat membuat modifikasi dan perubahan tersebut karena kemampuannya berinteraksi dengan dirinya sendiri, yang membuatnya dapat meneliti kemungkinan serangkaian tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan kemudian memilih salah satunya.
  1. 4.    Pendekatan fungsional (Talcott Parsons)

Garis besar pendekatan ini  adalah masyarakat itu dapat dianalogikan sebagai organ tubuh  manusia, yang terdiri dari bagian/komponen/ subsistem yang saling berhubungan dan saling  bergantung  untuk mewujudkan keseimbangan. Rusak atau terganggunya satu bagian akan mengganggu bagian yang lain atau bahkan keseluruhan bagian.

Dalam perspektif fungsional masyarakat dilihat sbg suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara teorganisir dan bekerja secara teratur menurut seperangkat aturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan kecenderungan ke arah keseimbangan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.

  1. 5.    Pendekatan Konflik (Karl Marx)

Pendekatan ini melihat masyarakat berada dalam konflik yang terus menerus antara kelompok dan kelas. Marx memusatkan perhatian pada pertentangan antar kelas untuk pemilikan kekayaan produktif. Perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Para teoretisi berpendapat bahwa masyarakat terikat bersama karena kekuatan kelas atau kelompok yang dominan. Secara garis besar di dalam  masyarakat selalu ada sekelompok orang yang menguasai alat produksi yang jumlahnya sangat sedikit ( disebut klas bourjuis) dan ada sekelompok orang yang tidak menguasai alat produksi yang jumlahnya sangat banyak ( sering disebut sebagai kelas proletar). Hubungan kedua kelas itu selalu terjadi perbedaan kepentingan. Klas atas menginginkan  status quo, sedang kelas bawah, menginginkan hilangnya kelas.

 

 

Mengapa kita perlu hidup bermasyarakat? Hidup bermasyarakat sebagai modus Survival, Karena itu tiga (3) kebutuhan manusia harus terpenuhi yaitu :

  • Kebutuhan Nutrisi
  • Kebutuhan Proteksi
  • Kebutuhan Reproduksi

 

  1. 1.    Masyarakat Tipe Bio Sosial

Yaitu masyarakat yang dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi, proteksi dan reproduksi bergerak secara refleks biologis. Dimana segala bakat dan kemampuan  individu diperoleh lewat proses heriditas/ pewarisan bakat biologis. Pluralisme fungsi individu pada masyarakat bio sosial seiring dengan polymorphisme phisik, misalnya :

  • Fungsi pengaman, tubuhnya kekar
  • Fungsi petelor, tubuhnya tambun
  • Fungsi pekerja, tubuhnya ramping

hal ini nampak pada masyarakat serangga (semut, lebah dll).

  1. 2.    Masyarakat Tipe Sosiokultural

Dalam masyarakat ini segala kemampuan untuk memenuhi hajat hidup didasarkan proses pengalaman pengajaran. Kemudian masa kanak-kanaknya panjang dan pluralisme fungsi tidak seiring dengan polymophisme phisik, di antaranya pada masyarakat manusia.

 BAB III

Proses Sosial

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila para individu dan kelompok-kelompok saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk hubungan tersebut. Setiap interaksi sosial yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sedemikan rupa hingga menunjukkan pola-pola pengulangan hubungan perilaku dalam kehidupan masyarakat.

Interaksi Sosial

Interaksi Sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitassosial. Interaksi sosial juga merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, kelompok dengan kelompok atau orang perorangan dengan kelompok. Interaksi sosial telah terjadi karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam perasaan maupun syaraf orang-orang yang bersangkutan. Contohnya saja karena bau keringat, minyak wangi, suara tertentu dll. yang menimbulkan kesan dalam pikiran seseorang  kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukan.

Faktor yang mendasari  Proses Interaksi Sosial 

  1. 1.   Faktor Imitasi

Faktor ini penting dalam proses interaksi sosial. Faktor ini bisa sebagai faktor positif karena mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dan bisa menjadi negatif karena meniru tindakan yang menyimpang dan mematikan daya kreasi.

  1. 2.   Faktor Sugesti

Faktor ini berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya kemudian diterima pihak lain. Faktor ini berlangsung karena pihak yang menerima dilanda emosi, sehingga menghambat daya berpikir secara rasional. Misalnya saja orang yang memberi pandangan adalah orang yang berkuasa, berwibawa atau mayoritas.

 

  1. 3.   Faktor Identifikasi

Faktor ini merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Di tinjau lebih dalam dari imitasi, karena kepribadian dapat terbentuk atas dasar ini.

  1. 4.   Faktor Simpati

Adalah suatu proses dimana orang tertarik pada pihak lain,  perasaan pegang peran penting. Dorongan utama simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerjasama dengannya.

Syarat  Terjadinya Interaksi sosial :

  • Kontak sosial

Individu bersama-sama menyentuh tidak harus dengan kontak  badaniah. Ini terjadi kontak tidak semata-mata tergantung dari tindakan tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Bentuk kontak sosial:

ü Antara orang-perorangan, contohnya anak kecil belajar kebiasaan dalam keluarga

ü Antara orang dengan kelompok atau sebaliknya, contohnya seseorang merasa tindakannya berlawanan dengan norma  masyarakat atau parpol memaksa anggotanya untuk menyesuaikan dengan ideologi/programnya.

ü Antara kelompok dengan kelompok, contohnya dua parpol bekerjasama untuk megalahkan parpol lain.

  • Komunikasi

Merupakan aktivitas seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (berupa pembicaraan atau sikap dan gerakan badan), perasaan apa yang ingin disampaikan pada orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang disampaikan orang lain. Dalam komunikasi seringkali muncul barbagai  macam penafsiran terhadap makna sesuatu atau tingkah lakuorang lain yang  itu semua ditentukan oleh perbedaan konteks sosialnya. Penafsiran   yang dipilih orang tergantung konteks situasinya. Contoh warna hitam, suatu saat bisa berarti buruk, seperti  untuk menyebut lokalisasi (daerah hitam) atau ilmu yang dipraktekkan untuk tujuan jelek (ilmu hitam). Tetapi, warna hitam, terkadang juga bisa berarti lain misalkan sebagai lambang  tengah berduka cita. Warna hitam terkadang juga diartikan sebagai perlambang kejujuran.

Bentuk-bentuk Proses Sosial

Proses sosial  dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu Proses sosial yang asosiatif adalah apabila proses itu mengindikasikan adanya“gerak pendekatan atau penyatuan”. Dan proses sosial yang disosiatif, yaitu apabila proses itu mengindikasikan adanya “gerak perenggangan atau disintegrasi”.

Proses Sosial yang Asosiatif terdiri dari :

  1. A.  Kerjasama

Proses ini muncul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya (in-group-nya) dan kelompok lainnya (out-group-nya). Menurut CH Cooley Kerjasama terjadi jika orang sadar memiliki kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan memiliki pengetahuan dan pengendalian diri terhadap kepentingannya. Bentuk Kerjasama antara lain sebagai berikut :

ü Kerukunan, mencakup gotong royong dan tolong menolong serta kerjasama spontan.

ü Bargaining, Yaitu pelaksanaan perjanjian/tawar menawar mengenai pertukaran barang atau jasa  antara dua organisasi atau lebih sehingga mencapai kesepakatan.

ü Cooptation,  adalah suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau  pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara  untuk menghindari terjadinya  kegoncangan dalam stabilitas organisasi. Contohnya adalah kelompok oposisi yang dimasukkan dalam jajaran kepemimpinan agar sejalan dengan pemahaman kelompoknya.

ü Coalition, yaitu penggabungan dua organisasi atau lebih yang mempunyai landasan bentuk (platform), dan tujuan yang kurang lebih sama  untuk mencapai tujuan bersama.

ü Joint venture, yaitu penggabungan dua orang /badan atau  lebih untuk melakukan kerjasama bisnis,  sebab bila dilakukan sendiri-sendiri  kecil kemungkinan dapat terwujud dan keuntungan yang diperoleh dibagi secara proporsional.

ü Social Exchange, yaitu suatu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih  saling memberi dan atau/saling menerima sesuatu, dengan  atau tanpa memperhitungkan untung rugi.

 

  1. B.  Akomodasi

Proses yang menunjuk pada suatu keadaan yaitu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi terkait dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Proses ini juga menunjuk pada suatu proses menunjuk usaha untuk meredakan pertentangan atau mencapai kestabilan. Menurut Gilliin  dan Gillin, akomodasi  sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok manusia mengadakan penyesuaian diri (adaptation) untuk mengatasi ketegangan-ketegangan.Tujuan akomodasi antara lain sebagai berikut :

  1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok sebagai akibat perbedaan paham.
  2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara atau temporer.
  3. Memungkinkan terjadinya kerjasama antar kelompok yang hidup terpisah akibat faktor psikologis, kebudayaan dll.
  4. Mengusahakan peleburan antar kelompok sosial yang terpisah, melalui perkawinan campuran atau asimilasi dalam arti luas.

Bentuk bentuk akomodasi antara lain sebagai berikut :

  1. Coercion, yaitu bentuk penyelesaian pertentangan dengan cara paksa. Biasanya dilakukan oleh atasan (yang punya kekuatan) terhadap bawahan (ada pihak yang lemah dan ada yang kuat).
  2. Compromise, yaitu bentuk penyelesaian pertentangan yang dilakukan oleh mereka yang bersengketa dengan cara saling mengurangi tuntutannya sehingga dapat mencapai kesepakatan.
  3. Mediation,yaitu bentuk penyelesaian pertentangan yang menggunakan jasa pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak dan bersifat netral.
  4. Arbitration, yaitu bentuk penyelesaian pertentangan yang menggunakan jasa pihak ketiga yang kedudukannya lebih tinggi dari pihak-pihak yang bersengketa.
  5. Conciliation, yaitu bentuk penyelesaian pertentangan yang dilakukan oleh pihak ketiga yang mempunyai kewenangan terhadap penyelesaian masalah itu.
  6. Adjudikasi, yaitu bentuk penyelesaian pertetangan yang dilakukan oleh pengadilan atau institusi pemerintah yang diberi kewenangan menyelesaian konflik.
  7. Stalemate (jalan buntu), yaitu bentuk penyelesaian pertentangan yang berhenti karena kekuatan masing-masing pihak yang seimbang, sehingga saling diam.
  8. Toleration, yaitu bentuk penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang bersengketa secara tidak sengaja dan tidak terencana dan tanpa persetujuan yang formal.

 

  1. C.  Asimilasi

Proses ini adalah pembauran dua atau lebih kelompok yang berbeda secara horizontal. Seperti perbedaan agama, suku/ethnis, agama, bahasa, adat istiadat dan sejenisnya. Perbedaan yang bersifat horizontal yang ada pada masyarakat memungkinkan terjadinya disintegrasi sosial ataupun konflik, oleh karena itu perlu adanya upaya pembauran. Proses Pembauran Dapat terjadi secara :

  • Alamiah ( Sukarela atau tanpa campur tangan pihak lain)
  • Rekayasa (sengaja diupayakan oleh pihak lain)

Faktor yang memperlancar Asimilasi antara lain :

  1. Kesamaan berbagai unsur budaya
  2. Perkawinan campuran
  3. Ciri fisik yang sama
  4. Sikap toleran terhadap perbedaan
  5. Kesempatan sama dlm Bidang Ekonomi/lapangan pekerjaan
  6. Sikap terbuka para penguasa
  7. Faktor yang menghambat asimilasi
  8. Terisolasinya kehidupan golongan tertentu dalam masyarakat (minoritas)
  9. Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi
  10. Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi
  11. Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan lain
  12. Perbedaan warna kulit
  13. In-group feeling
  14. Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap golongan minoritas
  15. Perbedaan kepentingan

Amalgamasi

Merupakan peleburan dua kelompok budaya yang kemudian melahirkan budaya baru. Biasanya dapat terjadi dengan sukarela maupun dengan pemaksaan.

Proses Sosial yang Disosiatif

Proses ini adalah proses sosial yang memungkinkan terjadinya disintegrasi sosial atau percerai-beraian atau putusnya interaksi sosial.

Proses sosial disosiatif terdiri dari :

  1. A.  Kompetisi

Merupakan interaksi sosial yang mengandung perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang terbatas dan diinginkan oleh orang banyak. Bentuk Kompetisi/persaingan:

  • Kompetisi personal, yaitu persaingan antar individu.
  • Kompetisi impersonal, yaitu persaingan antar kelompok atau organisasi.

Bidang Kompetisi meliputi :

  1. Bidang Ekonomi
  2. Bidang Sosial
  3. Bidang Politik
  4. Bidang Agama
  5. Bidang Kebudayaan

 

  1. B.  Konflik

Merupakan interaksi sosial yang mengaandung pertentangan dalam prakteknya tidak saja terjadi sebagai proses yang bersifat untuk mempertahankan eksistensi individu/kelompok, tetapi dapat juga bertujuan untuk membinasakan lawannya. Penyebab Konflik antara lain sebagai adalah perbedaan pemikiran, pandangan, pendapat dll. Tentang nilai, norma/ajaran, kepentingan dan tindakan tertentu.(sosial, ekonomi, politik, budaya, agama dll). Bentuk konflik antara lain;

  1. Konflik latent
  2. Konflik manifest
  3. Konflik Ideologis
  4. Konflik politis
  5. Konflik realistis
  6. Konflik non realistis

Bentuk khusus konflik antara lain :

  • Pertentangan pribadi
  • Pertentangan rasial
  • Pertentangan antar kelas sosial
  • Pertentangan Politik
  • Petentangan Internasional

Fungsi dan Dampak Konflik

Fungsi Konflik

  • Menumbuhkan perubahan
  • Meningkatkan solidaritas kelompok dalam (in-group)

Dampak Negatif Konflik antara lain ;

  • Kerugian harta
  • Hilangnya hak hidup
  • Renggang bahkan putusnya kerjasama

 

  1. C.  Kontravensi

Merupakan bentuk proses sosial yang berada  antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Bisa juga merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain tau unsur-unsur kebudayaan baru atau merupakan aktivitas untuk merintangi/ menghalangi pihak lain dalam mencapai tujuan, yang dilandasi unsur ketidak senangan, karena dianggap merugikan. Bentuk-bentuk kontraversi menurut Leopold von Wiese antara lain sebagai berikut :

  1. Umum, yaitu perbuatan penolakan, perlawanan dll.
  2. Sederhana, yaitu perbuatan menyangkal pernyataan orang lain di muka umum.
  3. Intensif, yaitu perbuatan melakukan penghasutan (desas-desus).
  4. Rahasia, yaitu perbuatan berkhianat.
  5. Taktis, yaitu perbuatan mengejutkan pihak lawan.

 

BAB IV

Kelompok Sosial

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Ada dua hasrat manusia sejak lahir, diantaranya adalah :

  • Ø Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya.
  • Ø Keinginan untuk menjadi satu dengan  suasana alam di sekelilingnya.

Naluri manusia untuk selalu hidup bersama dengan orang lain disebut Gregariosness. Mengapa manusia selalu hidup berkelompok? Karena manusia tidak mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk hidup sendiri, tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri, secara sosiologis, sebagian kepribadian dari manusia terbentuk oleh kehidupan berkelompok, demikian juga status dan peran.

Syarat terbentuknya Kelompok Sosial :

  1. Setiap anggota harus sadar bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Ada hubungan timbal balik antar anggota.
  3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama.
  4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola tertentu.
  5. Bersistem dan berproses.

Tipe Tipe-tipe  Kelompok Sosial :

  1. W.G.Sumner, membedakan kelompok Sosial menjadi :
  • In-group adalah kelompok sosial dimana  individu mengidentikasikan dirinya. In-group pada umumnya didasari  adanya rasa  simpati, persahabatan, kerjasama dan kedamaian.
  • Out-group adalah kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-group terhadap out-group, ini ditandai adanya permusuhan, kebencian, perasaan antipati (antagonisme) dan ethnocentrisme. Kelompok ini biasanya dilandasi perbedaan yang sangat prinsip, misal beda suku dan agama oleh individu diartikan sebagai lawan in-groupnya.
  1. Charles Horton Cooley membedakan kelompok sosial menjadi :
  • , biasanya jumlah anggotanya sedikit serta saling mengenal antar anggota. Secara fisik berdekatan (kecil) sehingga hubungan langsung Kelompok primer/utama bersifat pribadi (personal). Adanya  hubungan yang langgeng, simpati dan kerjasama yang spontan, tujuan individu adalah tujuan bersama, misalnya saja keluarga, kelompok sepermainan
  • Kelompok Sekunder, biasanya jumlah anggotanya banyak, tidak saling kenal secara pribadi, secara fisik berjauhan serta hubungannya tidak langgeng. Misalnya saja hubungan kontrak jual beli, organisasi dalam pabrik/industri.

 

  1. Ferdinand Tonnies membedakannya menjadi :
  • Gemeinschaft, yaitu bentuk kehidupan bersama yang anggota-anggotanya di ikat oleh batin yang murni dan alamiah serta kekal. Dasar hubungannya adanya rasa cinta dan kesatuan batin. Perasaan dan akal merupakan kesatuan hidup yang alamiah dan organis yang kemudian disebut wesenwille. Contohnya keluarga, kekerabatan, RT dll. Ciri utama Gemeinschaft adalah :

ü Intimate / akrab / mesra.

ü Private, hubungan bersifat pribadi (untuk beberapa orang saja).

ü Exclusive / hubungannya hanya untuk kita” saja dan tidak untuk orang di luar “kita”.

Gemeinschaft memiliki beberapa tipe, diantaranya adalah :

ü Gemeinschaft by blood, yaitu paguyuban atas dasar ikatan darah (keluarga, kekerabatan).

ü Gemeinschaft of place, yaitu paguyuban orang berdekatan tempat tinggal (RT, RW, dll).

ü Gemeinschaft of mind, yaitu paguyuban orang memiliki jiwa dan pikiran yang sama, ideologi sama (organisasi profesi dll).

  • Gesellschaft, yaitu suatu bentuk kehidupan bersama yang merupakan  ikatan lahiriah yang bersifat pokok untuk jangka waktu  pendek. Juga merupakan suatu bentuk kemauan yang dipimpin oleh cara berpikir yang didasarkan pada akal atau Kurwille. Atau bisa juga sebagai kemauan yang ditujukan pada tujuan tertentu dan bersifat rasional. Ciri-ciri Gesellscaft antara lain ;

ü Hubungan antar anggota renggang

ü Tidak mempribadi

ü Jumlah anggotanya banyak

ü Pola hubungannya rasional

 

  1. 4.    Formal group dan Informal group
  • Kelompok Formal adalah kelompok yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas secara tertulis yang sengaja diciptakan oleh anggotanya yang mengatur tentang kedudukan, struktur organisasi maupun kewajiban dan hak dari masing masing anggota dan sebagainya. Contohnya saja organisasi.
  • Kelompok Informal adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur organisasi tertentu dan pasti. Kedudukan, kewajiban dan hak dari masing masing anggota tidak jelas dan tidak tertulis sehingga biasanya terbentuk pertemuan yang berulangkali karena kepentingan dan pengalaman yang sama. Contohnya saja Clique.

 

  1. Robert K.Merton membedakannya menjadi :
  • Membership group adalah kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok itu. Dari intensitas interaksinya, membership group dapat dibedakan menjadi :

ü Nominal group-member, yaitu seorang anggota dianggap oleh anggota lain   masih berinteraksi dengan kelompok sosial yang bersangkutan, tetapi berkurang intensitasnya (tidak aktif).

ü Peripheral group-member, yaitu anggota yang masih tercatat tetapi sama sekali sudah tidak berinteraksi lagi dengan kelompok yang bersangkutan, sehingga kelompok tidak berkuasa terhadap orang tersebut.

  • Reference Group, yaitu kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Nilai-nilai, norma, tindakan  ataupun budaya kelompok dijadikan rujukan atau pedoman oleh seseorang /sekelompok orang yang bukan menjadi anggota kelompok tersebut. Ada 2 tipe Reference Group, diantaranya adalah sebagai berikut :

ü Tipe normatif (normative type), yaitu tipe yang menentukan kepribadian seseorang sehingga merupakan sumber nilai bagi individu, baik anggota maupun bukan anggota. Misalnya saja anggota TNI yang berpegang teguh pada tradisi yang dipelihara seniornya.

ü Tipe perbandingan (comparison type), yaitu tipe yang menentukan kepribadian individu di dalam menilai kepribadiannya sehingga dipakai sebagai perbandingan untuk menentukan kedudukan seseorang. Misalnya saja status ekonomi seseorang dibanding dengan orang lain yang semasyarakat.

 

  1. 6.    Kelompok Okupasional dan Volunter
  • Kelompok Okupasional , muncul karena semakin memudarnya fungsi kekerabatan dan memiliki pekerjaan yang sama. Contohnya organisasi profesi seperti IDI, ISI dll.
  • Kelompok Volunter adalah kelompok yang memiliki kepentingan sama, tapi tidak mendapat perhatian masyarakat. Dengan melalui kelompok ini diharapkan dapat memenuhi kepentingan anggotanya tanpa mengganggu kepentingan masyarakat  umum.

Kelompok Sosial yang tidak teratur

  1. A.  Crowd (kerumunan)

Adalah individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat pada waktuyang bersamaan. Ciri-ciri kerumunan antara lain :

ü  Sifatnya sementara

ü  Tidak terorganisasi

ü  Kedudukan sosialnya sama

ü  Mudah bereaksi ataupun meniru

ü  Identitas individu tenggelam

 

Bentuk-bentuk Kerumunan :

  • Ø Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial

v Khalayak penonton yang formal (formal audiences), adalah kerumunan yang  mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan, tetapi sifatnya pasif serta bisa direncanakan. Contohnya adalah penonton bioskop, penonton sepak bola, mendengarkan kampanye, khotbah agama.

v Kelompok Ekspresif yang direncanakan (planned expressive group), yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting akan tetapi punya persamaan tujuan, biasanya adalah sebagai penyalur ketegangan yang dialami karena pekerjaan sehari-hari. Contohnya adalah kerumunan dansa, pesta dll.

  • Ø Kerumunan yang sangat sementara (Casual Crowds)

v Kerumunan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations), yaitu kerumunan yang semakin banyak orang hadir akan menghambat tercapainya tujuan. Misalnya kerumunan orang antri karcis, kerumunan menunggu bus/ kereta api.

v Kerumunan orang yang sedang panik (panic Crowds), yaitu orang yang bersama-sama untuk menyelamatkan diri dari suatu bahaya berdasarkan dorongan dalam diri individu yang cenderung mempertinggi rasa panik. Misalnya ada bencana alam atau bom yang meledak,  perampokan, kebakaran,  kecelakaan lalu lintas dan terjadi banyak korban.

v Kerumunan penonton yang tidak direncanakan (Spectato Crowds), yaitu kerumunan orang yang ingin melihat kejadian tertentu (kecelakaan lalu lintas/kebakaran dll) atau pertunjukan yang tiba-tiba. Kerumunan ini hampir sama dengan khlayak penonton, bedanya tidak direncanakan. Contohnya ada orang jual jamu ditepi jalan dengan  permainan sulap.

 

 

  • Ø Kerumunan yang berlawanan dengan Hukum (Lawless Crowds)

v Kerumunan yang emosional (Acting Mobs), yaitu kerumunan yang bertindak emosional, bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini terjadi karena hak-hak mereka diinjak atau tidak adanya keadilan. Contohnya saja adalah tawuran.

v Kerumunan yang melanggar moral (immoral Crowds), kerumunan yang hampir sama dengan kelompok ekspresif, bedanya kerumunan ini melanggar atau bertentangan dengan norma norma sosial. Misalnya saja kerumunan orang minum-minuman keras, mabuk sehingga mengganggu ketertiban dan ketenteraman masyarakat.

 

  1. B.  Publik

Adalah kelompok yang tidak merupakan kesatuan (tanpa bentuk/struktur). Interaksi terjadi secara tidak langsung dengan alat komunikasi, seperti melalui radio, telivisi, media cetak dan sejenisnya. Kelompok ini pengikutnya lebih luas dan besar dan tidak ada pusat perhatian yang tajam sehingga tidak ada kesatuan.

 BAB V

Tertib Sosial

Pengertian dari Tertib sosial adalah keadaan yang aman, damai, tenteram atau stabil/harmonis. Mengapa diperlukan keadaan tertib sosial? Agar upaya   kebutuhan hidup itu dapat terpenuhi sehingga kehidupan bermasyarakat tetap berlangsung dengan baik. Beberapa faktor yang menentukan tertib sosial antara lain sebagai berikut :

  1. 1.    Norma Sosial
  2. A.  Definisi Norma Sosial

Norma sosial merupakan seperangkat aturan yang digunakan oleh komunitas/masyarakat, sebagai pedoman untuk bersikap, berperasaan, berpikir,maupun bertindak.Norma sosial juga merupakan patokan perilaku manusia  dalam kehidupan masyarakat. Norma sosial akan berfungsi dengan baik kalau sudah melembaga (institutionalized), dan juga disertai dengan syarat:

  • Diketahui oleh masyarakat
  • Dipahami dan dimengerti
  • Dihargai
  • Ditaati dan dilaksanakan.

 

  1. B.  Jenis Norma Sosial jika dilihat dari kekuatan mengikatnya
  • Cara (Usage) merupakan  norma yang daya pengikatnya lemah.
  • Kebiasaan (Folksways) adalah suatu aturan dengan kekuatan yang lebih kuat dari usage.
  • Tata Kelakuan (Mores) adalah aturan yang  sudah diterima masyarakat  dan biasanya berhubungan dengan sistem kepercayaan atau keyakinan agama.
  • Adat Istiadat (Custom) adalah  memiliki sanksi yag keras bagi pelanggarnya berupa penolakan dan pengadilan.

 

 

  1. C.  Klasifikasi Norma Sosial

Berdasarkan proses  terbentuknya norma sosial ;

  • Melalui kebiasaan/tradisi tidak terencana, tidak tertulis
  • Melalui perencanaan dan pembahasan yang tertulis

Atas dasar proses terbentuknya norma sosial dibedakan menjadi :

a)    Folkways

Adalah aturan yang berasal dari kebiasaan yang diulang-ulang dalam praktek kehidupan sehari-hari, sehingga mempunyai kekuatan  dan  menjadi   sesuatu yang   bersifat standard. Karenanya wajib untuk dilakukan. Tidaklah hanya terbatas menjadi kebiasaan-kebiasaan di dalam hal perbuatan-perbuatan lahir saja,   bahkan seringkali sampai mendalam menjadi kebiasaan-kebiasaan berpikir. Ciri ciri Folkways antara lain sebagai berikut :

v  Tidak tertulis

v  Tidak diketahui siapa  pembuatnya

v  Tidak diketahui kapan dibuat

v  Sanksinya ringan (dicemooh/diejek, sindiran, pergunjingan atau olok-olok)

v  Penghukuman komunal. Sanksi bersifat informal terbatas pada kelompok tertentu

v  Eksistensinya bisa dibantah

 

b)   Mores

Mores selalu lebih dipandang sebagai bagian  dari hakekat kebenaran. Mores adalah segala norma yang secara moral dipandang benar. Pelanggaran terhadap mores selalu dikutuk sebagai sesuatu hal yang secara moral tidak dapat dibenarkan. Mores tidaklah memerlukan dasar pembenar, karena mores itu sendiri adalah sesuatu yang sungguh-sungguh telah bernilai benar. Mores tidak bisadiganggu gugat untuk diteliti benar-tidaknya; sedangkan folkways di lain pihak–benar tidaknya masihlah agak leluasa untuk diperbantahkan. Mores itu dipandang lebih essensial bagi terjaminnya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu lalu selalu dipertahankan oleh ancaman-ancaman sanksi yang jauh lebih keras. Pelanggaran terhadap mores selalu disesali dengan sangat, dan orang selalu berusaha dengan amat kerasnya agar morestidak dilanggar. Mores dirumuskan ke dalam  aturan  yang harus dilakukan untuk mengatur pola hubungan umum. Seperti di antaranya, keharusan untuk bekerja rajin, jujur, ksatria dll. Dirumuskan dalam bentuk larangan. Larangan untuk dilakukan itu sering disebut Tabu. Tabu yang populer adalah tabu incest. Sifat-sifat  Mores terdiri atas :

  • Ø Mores bersifat spesifik, yaitu mores yang mengatur keharusan perilaku-perilaku tertentu, mengkaidahi perhubungan khusus antara dua orang tertentu, pada suatu situasi tertentu pula; misalnya: hubungan antara seseorang suami dengan isterinya, atau antara seorang dokter dengan pasiennya, atau antara seseorang guru dengan muridnya.
  • Ø Mores bersifat umum, yang mengharuskan adanya penataan secara mutlak terhadap norma mores tertentu, oleh siapun juga, dan pada situasi bagaimanapun juga mengkaidahi secara umum sejumlah hubungan-hubungan sosial di dalam situasi-situasi umum, misalnya: keharusan berlaku jujur, keharusan bersikap ksatria, keharusan bekerja rajin, dan sebagainya.

 

ü Ciri ciri Mores

Ciri-ciri mores pada dasarnya hampir sama dengan Folkways (ciri 1 s.d.5), bedanya,  eksistensi mores tidak dapat dibantah dan sanksinya relatif lebih berat. Artinya bahwa aturan yang termasuk mores harus dilakukan/dipatuhi.

 

ü Persamaan Folkways dan Mores

  • Kedua-duanya tidak jelas asal-usulnya, terjadi tidak terencana.
  • Dasar eksistensinya pun tidak pernah dibantah, dan kelangsungannya –karena didukung tradisi–relatif amatlah besar.
  • Kedua-duanya dipertahankan oleh sanksi-sanksi yang bersifat informal dan komunal, berupa sanksi spontan dari kelompok-kelompok sosial dimana kaidah-kaidah tersebut hidup.
  • Walaupun ada kesamaan-kesamaan antara folkways dan mores, namun moresselalu lebih dipandang sebagai bagian  dari hakekat kebenaran. Mores adalah segala norma yang secara moral dipandang benar.

 

ü Perbedaan Folkways dan Mores

  • Folkway yang biasanya dipandang relatif  kurang begitu penting dan oleh karenanya dipertahankan oleh ancaman-ancaman sanksi yang tidak seberapa keras. Mores itu dipandang lebih essensial bagi terjaminnya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu lalu selalu dipertahankan oleh ancaman-ancaman sanksi yang jauh lebih keras.   Pelanggaran terhadap mores selalu dikutuk dan disesali dengan sangat sebagai sesuatu hal yang secara moral tidak dapat dibenarkan, karenanya orang selalu berusaha dengan amat kerasnya agar morestidak dilanggar.
  • Mores tidak bisa diganggu gugat untuk diteliti benar-tidaknya sedangkan Folkways di lain pihak benar tidaknya masihlah agak leluasa untuk diperbantahkan. Eksistensi mores tidak dapat dibantah dan sanksinya relatif lebih berat. Artinya bahwa aturan yang termasuk mores harus dilakukan/dipatuhi.

 

c)    Hukum

Adalah segugus kaidah yang lain, untuk menegakkan keadaan tertib sosial. Hukum merupakan aturan/norma sosial yang dibuat secara terencana, terpikirkan, tertulis serta terkodifikasikan. Pada hukum terdapat organisasi-politik khususnya, yang secara formal dan berprosedur bertugas memaksakan agar kaidah-kaidah sosial yang berlaku ditaati. Organisasi yang lazim dikenal dengan nama badan peradilan. Di sisi lain, karena moresitu lain tidak adalah kaidah-kaidah yang tak tertulis, maka hukum yang dijadikan dari mores dengan ditunjang oleh wibawa suatu struktur kekuasaan politik–inipun lalu merupakan hukum yang tak tertulis (atau lazim dinamakan hukum adat, customary law). Ciri ciri hukum bertolak belakang dengan folkways dan mores. Pada   masyarakat semakin kompleks dan bertambah besar, maka organisasi politik yang  hanya mengerjakan fungsi peradilan menegakkan berlakunya kaidah-kaidah sosial yang tertulis mulailah dipandang kurang memadai. Sehingga perlu pula mengadakan satu organisasi politik yang bertugas khusus melaksanakan  tugas-tugas pembuatan kaidah-kaidah baru dengan tugas legislatif untuk menutup kekurangan-kekurangan kaidah yang dirasakan.

 

Perbedaan Hukum dan  Norma lain

Pada hukum terdapat organisasi-politik yang secara formal dan berprosedur bertugas memaksakan ditaatinya kaidah-kaidah sosial yang berlaku. Hukum tertulis itu adalah jauh lebih terpikir dan lebih terlafalkan secara tegas. Hukum tertulis betul-betul merupakan hasil suatu perencanaan dan pikiran-pikiran yang sadar. Walaupun mungkin pula bertumpu pada jiwa dan semangat mores lama yang telah ada–sehingga karenanya memperoleh pula pentaatan yang spontan dari warga masyarakat. Hukum tertulis melaksanakan fungsinya secara lebih lanjut. Dalam bentuk memberikan pelafalan yang lebih tepat dan tegas serta demi pelaksanaannya,   memberikan kekuatan formal kepadanya.

 

Nilai Sosial

Menurut Horton dan Hunt (1987), nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak berarti. Nilai pada hakekatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang, tetapi ia tidak menghakimi apakah sebuah perilaku tertentu itu salah  atau benar. Nilai adalah Konsepsi abstrak tentang sesuatu yang berharga dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan buruk. Nilai sosoal adalah nilai yang dianut dan dianggap penting oleh suatu kelompok masyarakat.

Ciri-ciri Nilai Sosial Antara lain sebagai Berikut :

Sebagai suatu bagian penting dari kebudayaan.

Suatu tindakan dianggap sah, artinya secara moral dapat diterima–kalau harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat di mana tindakan itu dilakukan.

Ketika nilai yang berlaku menyatakan bahwa kesolehan beribadah adalah sesuatu yang harus di junjung tinggi, maka bila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan.

Sebaliknya, bila ada orang yang dengan ikhlas rela menyumbangkan sebagian hartanya untuk kepentingan ibadah atau rajin amal  , maka ia akan dinilai sebagai orang yang pantas dihormati dan diteladani.

 

Fungsi Nilai Sosial

Dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan harga sosial dari kelompok.

ü Dapat mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertingkah laku

ü Sebagai penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peran sosialnya.

ü Sebagai alat solidaritas.

ü Sebagai kontrol perilaku masyarakat.

 

  1. 2.    SOSIALISASI

Menurut Peter Berger, Sosialisasi adalah Suatu proses belajar yang dilalui seorang untuk menjadianggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Sosialisasi adalah proses pembelajaran terhadap nilai-nilai, norma-norma, perasaan, sikap, perilaku, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tindakan.Sosialisasi berlangsung antara dua pihak, yaitu pihak yang melakukan sosialisasi dan pihak yang disosialisasi.

 

 

 

 

Tujuan Sosialisasi antara lain :

  • Ø Membekali seseorang dengan ketrampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Ø Mengembangkan kemampuan berkomunikasi  secara efektif seperti dalam  hal membaca, menulis, dan berbicara.
  • Ø Mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan mawas diri yang tepat.
  • Ø Membiasakan diri dengan nilai-nilai kepercayaan pokok yang ada di masyarakat.

 

Dasar Sosialisasi antara lain :

ü Manusia tidak mempunyai kemampuan refleks biologis.

ü Agar individu mempunyai kemampuan untuk melangsungkan kehidupannya.

ü Agar kebudayaan masyarakat dapat terwariskan ke generasi berikutnya Sosialisasi sebagai aktivitas dua pihak :

ü Pihak kesatu, aktivitas penyosialisasi adalah mengajarkan sesuatu kepada pihak yang  disosialisasi.

ü Pihak kedua, adalah yang menerima sosialisasi, aktif untuk mengetahui, mengingat,  menginterpretasi dan melaksanakan apa yang  disosialisasikan.

 

Pelaku aktivitas sosialisasi

  • Ø Person-person yang mempunyai wibawa dan kekuasaan atas individu-individu yang disosialisasi; misalnya : ayah, ibu, guru, atasan, pemimpin, dan sebagainya.
  • Ø Person-person yang mempunyai kedudukan sederajat (atau kurang lebih sederajat) dengan individu-individu yang tengah disosialisasi; misalnya saudara sebaya, kawan sepermainan, kawan sekelas dan sebagainya.

 

 

 

 

Pola Sosialisasi

  • Ø Sosialisasi Otoriter

Sosialisasi yang dipercayakan kepada orang-orang  yang mempunyai   kewenangan/ kekuasaan terhadap individu yang disosialisasi. Proses sosialisasi ini dilakukan dengancara paksa. Orang-orang tersebut adalah orang tua, guru, pemimpin / penguasa. Tujuan Sosialisasi Otoriter antara lain agar individu yang disosialisasi itu dapat menguasai apa yang disosialisasikan, sehingga pada akhirnya dapat dikendalikan secara  disipliner di dalam masyarakat Untuk Siapa Sosialisasi otoriter umumnya sosialisasi otoriter dilakukan untuk menyosialisasi anak-anak yang dianggap ”masih belum tahu” atau belum dewasa. Anak-anak ini pada umumnya cenderung menginginkan kebebasan, sehingga menolak berbagai aturan yang dianggap mengekang. Yang penting anak tersebut  patuh, dan tidak harus tahu lebih dulu akan dasar rasionalnya norma sosial yang disosialisasikan itu.

  • Ø Sosialisasi Ekualiter

Sosialisasi yang dilakukan oleh individu yang sederajat dengan tujuan untuk saling melindungi/saling membantu demi kelestarian interaksi mereka. Asas kesamaan dan kooperatif.

  • Ø Sosialisasi Formal

Adalah proses pembelajaran yang dilakukan secara terstruktur menurut aturan yang tertulis / resmi, baik penyosialisasi, yang disosialisasi, materi, waktu, tempat dan lain sebagainya. Sosialisasi ini dengan sengaja dan sadar direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Usaha-usaha pendidikan, pengajaran, indoktrinasi, pemberian petunjuk-petunjuk dan nasehat-nasehat.

  • Ø Sosialisasi Informal

Adalah aktivitas-aktivitas sosialisasi yang dilaksanakan tanpa disadari oleh person yang mengerjakan itu. Proses pembelajaran yang dilakukan secara tidak terstruktur dengan aturan yang tidak tertulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan sosialisasi itu. seorang ibu, bertingkahpekerti dan bersopan-santun dengan tamu  yang berkunjung ke rumahnya, dan anak-anaknya menyaksikannya, maka sang ibu ini tanpa sepengetahuannya telah mensosialisasikan norma-norma   kepada anak-anaknya itu.

  • Ø Sosialisasi Primer

Adalah sosialisasi yang paling dini  yang diterima individu dari lingkungan hidupnya. Sosialisasi yang dilakukan dalam keluarga, dilakukan terhadap anak-anak.

  • Ø Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi lanjutan dari sosialisasi primer. Ketika anak-anak sudah mengenal lingkungan yang lebih luas. Misalnya tetangga, teman, kerabat yang lebih luas.

Manfaat sosialisasi bagi masyarakat :

ü Terwujudnya tertib sosial

ü Terwariskannya kebudayaan ke  generasi berikutnya

ü Terbentuknya kepribadian individu yang sesuai dengan harapan

ü masyarakat.

 

Manfaat Sosialisasi Bagi Individu

ü Individu dapat diterima oleh masyarakat.

ü Individu dapat menyesuaikan dengan lingkungan tempat tinggalnya

ü Individu merasa aman dan nyaman tinggal di lingkungannya

 

Internalisasi

Aktivitas internalisasi merupakan segi balik dari aktivitas melaksanakan sosialisasi. Internalisasi adalah sebuah proses yang dikerjakan oleh pihak yang tengah menerima proses sosialisasi. Proses ini bukanlah proses yang pasif, namun merupakan rangkaian aktivitas psikologik yang bersifat aktif. Proses Internalisasi Pertama-tama seseorang aktif mengintepretasi makna dari apa-apa yang disampaikan kepadanya (yaitu dalam hal sosialisasi diselenggarakan secara formal), atau makna dari apa-apa yang dia saksikan atau dia hayati (yaitu di dalam hal sosialisasi diselenggarakan secara informal dan tak tersengaja). Pada langkah berikutnya dia aktif meresapkan dan memgorganisir hal interpretasinya itu ke dalam ingatan, perasaan, dan batinya.

 

Sosialisasi dan pembentukan kepribadian

Sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus terhadap individu / kelompok,  akan membentuk kepribadian individu/ kelompok tersebut sesuai dengan keinginan pihak penyosialisasi.

Kepribadian ini merupakan kecenderungan psikologis seseorang/ kelompok untuk bertingkah pekerti tertentu baik yang bersifat tertutup (bersikap, berperasaan) ataupun terbuka (perbuatan atau tindakan). Keanekaragaman kepribadian individu ataukelompok  terjadi, karena kultur masyarakat yang berbeda.  Pada dasarnya kepribadian adalah produk kultur, karena itu kepribadian yang sudah terbentuk dapat berubah, manakala kulturnya berubah pula.

 

Peran Kelompok Dalam Pembentukan Kepribadian

Di dalam hal pembentukan kepribadian ini, kelompok atau orang-orang di dalam masyarakatlah yang selalu melakukannya. Seseorang anak manusia itu selalu lahir di tengah-tengah suatu kelompok ialah keluarganya, yang merawat dan mengurusi kepentingan-kepentingan dan hajat-hajat hidupnya. Mengapa kelompok menentukan pembentukan kepribadian seseorang?

Organisme manusia (khususnya sistem syarafiahnya) dan psikhe manusia itu pada saat kelahirannya adalah begitu plastis dan fleksibel.

Plastisitas dan fleksibilitas demikian itulah  yang menyebabkan mengapa kelompok mungkin membentuk, atau mempengaruhi pembentukan  kepribadian seseorang.

Proses sosialisasi  yang ternyata relevan bagi pembentukan kepribadian  dapat dibedakan atas proses sosialisasi yang dikerjakan (tanpa sengaja) lewat proses interaksi sosial dan proses  sosialisasi yang dikerjakan (secara sengaja) lewat proses pendidikan dan pengajaran.

 

 

Media Sosialisasi

  1. A.  Keluarga

Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia. Mengapa? Pertama, keluarga merupakan kelompok primer yang selalu tatap muka di antara anggotannya, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggotanya. Kedua, orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya, sehingga menimbulkan hubungan emosional di mana hubungan ini sangat diperlukan dalam proses sosialisasi. Ketiga, adanya hubungan sosial yang tetap, maka dengan sendirinya orang tua mempunyai peran yang penting terhadap proses sosialisasi anak. Tiga pola hubungan orangtua-anak

  • Ø Pola menerima menolak. Pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
  • Ø Pola memiliki-melepaskan. Pola ini begerak dari sikap protektif orang tua terhadap anak. sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali,
  • Ø Pola demokrasi-otokrasi. Pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai ditaktor terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi, sampai batas-batas tertentu, anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga.

 

  1. B.  Kelompok Bermain Kelompok Bermain

Kelompok bermain yang berasal dari kerabat, tetangga maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola-pola perilaku seseorang. Di dalam kelompok bermain, anak mempelajari berbagai kemampuan baru yang acapkali berbeda dengan apa yang mereka pelajari dari keluarganya. Di dalam kelompok bermain, individu mempelajari norma nilai, kultural, peran dan semua persyaratan lainnya yang dibutuhkan individu dapat berpartisipasi  di dalam kelompok permainannya. Berbeda dengan pola sosialisasi dalam keluarga yang umumnya bersifat otoriter karena melibatkan hubungan yang tidak sederajad, di dalam kelompok bermain pola sosialisasinya bersifat ekualiter karena kedudukan para pelakunya relatif sederajad.

 

  1. C.  Sekolah

Sekolah merupakan media sosialisasi yang lebih luas dari keluarga. Sekolah mempunyai potensi yang berpengaruh besar dalam pembentukan sikap dan perilaku seorang anak, terutama dalam mempersiapkan  penguasaan peran–peran  baru di masyarakat kemudian hari. Berbeda dengan sosialisasi dalam keluarga —di mana anak masih dapat mengharap bantuan dari orang tua dan acap kali memperoleh perlakuan khusus, Di sekolah anak dituntut untuk bisa   mandiri dan  memperoleh perlakuan yang tidak berbeda dari teman-temannya. Di sekolah rewardakan diberikan kepada anak yang terbukti mampu bersaing dan menunjukkan prestasi akademis yang baik. Di sekolah anak juga akan banyak belajar bahwa untuk mencapai prestasi yang baik, maka yang diperlukan adalah kerja keras.

 

  1. D.  Lingkungan Kerja

Di dalam lingkungan kerja inilah, individu saling berinteraksi dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan nilai, norma yang berlaku di dalamnya. Seseorang yang bekerja di lingkungan birokrasi, biasanya akan memiliki gaya hidup dan perilaku yang berbeda dengan orang lain yang bekerja di perusahaan swasta,  Seseorang yang bekerja dan bergaul dengan teman-temanya di tempat kerja seperti dunia pendidikan tinggi, akan berbeda perilaku dan gaya hidupnya dengan orang lain yang berprofesi di dunia kemiliteran.

 

  1. E.  Media Massa

Media massa, Surat kabar. TV, film, radio, majalah dan sebagainya, mempunyai peran  penting dalam proses transformasi nilai-nilai, norma-norma baru kepada masyarakat. Media massa juga menstransformasikan simbol-simbol atau lambang tertentu dalam suatu konteks emosional. Media massa sebagai media sosisalisasi yang kuat dalam membentuk keyakinan-keyakinan baru atau mempertahankan   keyakinan yang ada. Proses sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari pada media sosialisasi yang lainnya. Iklan-iklan yang ditayangkan media massa misalnya, disinyalir telah menyebabkan terjadinya perubahan pola konsumsi, dan bahkan gaya hidup warga masyarakat.

 

  1. 3.      Kontrol Sosial
    1. A.  Definisi Para Ahli
      1. a.      Peter I Berger

Kontrol sosial adalah erbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang.

  1. b.      Roucek dan Warren

Kontrol sosial adalah proses yang terencana atau tidak untuk mengajar individu agar dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan nilai-nilai kelompok tempat mereka tinggal.

  1. c.       Soerjono Soekamto

Kontrol sosial adalah suatu proses baik yang direncanakan atau tidak yang bertujuan untuk mengajak, membimbing bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku.

  1. d.      Soetandyo Wignyosoebroto

Kontrol sosial adalah semua cara yang ditempuh dan semua sarana yang digunakan untuk mengendalikan tingkat pekerti warga masyarakat atau sebagai sarana pemaksa yang akan segera dilaksanakan dengan menggunakan kekuatan fisik ataupun psikis, manakala proses sosialisasi tidak menghasilkan efek ketertiban sebagaimana yang diharapkan.

Bilamana kontrol sosial tidak akan dikenakan pada warga, apabila :

  1. Bila warga itu telah mematuhi norma sosial yang berlaku dalam bersikap dan berperilaku.
  2. Apabila norma sosial telah dipatuhi tanpa kekerasan ataupun paksaan, maka berarti norma sosial tersebut telah memiliki kekuatan sendiri (self enforcing).
  3. B.  Sarana Kontrol Sosial Dapat Berupa
    1. 1.      Sanksi (Punishment)

Sanksi akan bekerja secara represif untuk menekan warga dengan pemberian pembebanan penderitaan bagi siapa saja yang melanggar norma sosial. Macam-macam sanksi adalah :

  • Sanksi ekonimi, yaitu pembebanan penderitaan ekonomi seperti denda, ganti rugi, sita dll.
  • Sanksi fisik, yaitu pembebanan penderitaan fisik seperti dipukul, dicubit, cambuk, pancung, tembak dll.
  • Sanksi psikologis, yaitu pembebanan penderitaan kejiwaan seperti cemooh, diejek, dipermalukan di depan umum.
  1. 2.      Penghargaan (Reward)

Pemberian penghargaan dapat juga berfungsi sebagai sarana kontrol sosial yang bekerja secara preventif. Macam-macam penghargaan adalah :

  • Penghargaan ekonomi, misalnya rangsangan akan di beri uang atau benda-benda yang bernilai ekonomis.
  • Penghargaan fisik, misalnya dibelai, dicium, disalami dan sebagainya.
  • Penghargaan psikologis, misalnya disanjung, dipuji dan sejenisnya.
  1. C.  Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kontrol Sosial
    1. Menarik tidaknya kelompok bagi para warganya
    2. Otonom tidaknya kelompok
    3. Beragam tidaknya norma yang berlaku pada masyarakat
    4. Banyak sedikitnya dan anomik tidaknya kelompok
    5. Toleran tidaknya petugas kontrol sosial terhadap pelanggaran yang terjadi

 

  1. 4.      Aparat Kontrol Sosial
    1. a.      Siapa Aparat Kontrol Sosial?
      1. Masyarakat, mereka ini pada umumnyatidak ada waktu yang cukup karena waktunya untuk mencari kebutuhan pokoknya sehari-hari dan terbatas pada kemampuan, kemudian dipercayakan kepada pemerintah sebagai penguasa tertinggi suatu Negara.
      2. Aparat kepolisian, tetua adat, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga dan sebagainya.
      3. b.      Toleran tidaknya petugas ini dipengaruhi oleh
        1. Ekstrem tidaknya pelanggaran itu
        2. Situasi sosial ketika pelanggaran itu terjadi
        3. Status dan reputasi pelanggar
        4. Azasi tidaknya nilai yang dilanggar

Psikologi Komunikasi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.    Latar Belakang

Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita karena kita selalu terlibat dalam salah satu bentuknya, misalnya: percakapan antar individu, mengirim dan/atau menerima surat, percakapan melalui telepon, melihat televisi, mendengarkan radio, dan sekarang ini masuk ke dalam internet.

Abad ini disebut abad komunikasi massa. Komunikasi telah mencapai suatu tingkat di mana orang mampu berbicara dengan jutaan manusia secara serentak dan serempak.

  1. 2.    Rumusan Masalah

Makalah ini akan menjelaskan mengenai Sistem Psikologi Komunikasi dan Informasi, pengertiannya , faktor – faktor yang mempengaruhi reaksi khalayak, berserta efek, dan motif – motif yang ada.

  1. 3.    Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Psikologi Komunikasi dan Informasi

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Psikologi merupakan cabang ilmu yang masih muda atau remaja. Sebab, pada awalnya psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat tentang jiwa manusia. Menurut plato, psikologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat, hakikat, dan hidup jiwa manusia (psyche = jiwa ; logos = ilmu pengetahuan).

Jiwa secara harfiah berasal dari perkataan sansekerta JIV, yang berarti lembaga hidup (levensbeginsel), atau daya hidup (levenscracht). Oleh karena jiwa itu merupakan pengertian yang abstrak, tidak bisa dilihat dan belum bisa diungkapkan secara lengkap dan jelas, maka orang lebih cenderung mempelajari “jiwa yang memateri” atau gejala “jiwa yang meraga/menjasmani”, yaitu bentuk tingkah laku manusia (segala aktivitas, perbuatan, penampilan diri) sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, psikologi butuh berabad-abad lamanya untuk memisahkan diri dari ilmu filsafat.

Perkataan tingkah laku/perbuatan mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, berjalan, berlari-lari, berolah-raga, bergerak dan lain-lain, akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalan bentuk tangis, senyum dan lai-lain.

Kegiatan berpikir dan berjalan adalah sebuah kegiatan yang aktif. Setiap penampilan dari kehidupan bisa disebut sebagai aktivitas. Seseorang yang diam dan mendengarkan musik atau tengah melihat televisi tidak bisa dikatakan pasif. Maka situasi dimana sama sekali sudah tidak ada unsur keaktifan, disebut dengan mati.

Pada pokoknya, psikologi itu menyibukkan diri dengan masalah kegiatan psikis, seperti berpikir, belajar, menanggapi, mencinta, membenci dan lain-lain. Macam-macam kegiatan psikis pada umumnya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu: 1) pengenalan atau kognisi, 2) perasaan atau emosi, 3) kemauan atau konasi, 4) gejala campuran.

Namun hendaknya jangan dilupakan, bahwa setiap aktivitas psikis/jiwani itu pada waktu yang sama juga merupakan aktifitas fisik/jasmani. Pada semua kegiatan jasmaniah kita, otak dan perasaan selalu ikut berperan ; juga alat indera dan otot-otot ikut mengambil bagian didalamnya.

Penyelidikan terhadap organ-organ manusia digolongkan dalam ilmu fisiologi. Yaitu meneliti peranan setiap organ dalam fungsi-fungsi kehidupan seperti meneliti segala sesuatu tentang mata, ketika subyek bisa melihat dan juga meneliti pengaruh kerja otak untuk mengkoordinir semua perbuatan individu guna menyesuaikan dengan lingkungnnya. Jika fungsi segenap organ dan tingkah laku banyak dijelaskan oleh fisiologi, maka masih perlukah bidang keilmuan psikologi?

Fisiologi memberikan penjelasan macam-macam tingkah laku lahiriah yang menjasmani sifatnya. Sedang manusia merupakan suatu totalitas jasmaniah rokhani. Semua bentuk dorongan dan impuls dalam diri manusia yang menyebabkan timbulnya macam-macam aktifitas fisik dan psikis, dijelaskan oleh psikologi. Misalnya, jika seseorang menaruh rasa semangat yang tinggi , ketika ia mengahadapi suatu masalah tertentu maka ia akan menaggapi masalah itu dengan semangat untuk menyelesaikannya. Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:

1. Menjelaskan

Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif.

 

2. Memprediksikan

Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.

3. Pengendalian

Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan atau treatment.

B. Pendekatan Psikologi

Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu

1. Pendekatan Neurobiological

Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiological berupaya mengaitkan prilaku yang terlihat dengan implus listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari prilaku dan proses mental.

2. Pendekatan Prilaku

Menurut pendekatan ini tingkah laku pada dasarnya adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.

 

3. Pendekatan Kognitif

Pendekatan ini menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Jika dibuatkan model adalah sebagai berikut S – O – R. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

4. Pendekatan Psikoanalisa

Pendekatan ini dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, implus, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

5. Pendekatan Fenomenologi

Pendekatan ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

C. Kajian Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. beberapa kajian ilmu psikologi diantaranya adalah:

 

 

1. Psikologi perkembangan

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut.

2. Psikologi sosial mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :

  1. studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
  2. studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain
  3. studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama, persaingan, konflik;

3. Psikologi kepribadian

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

4. Psikologi kognitif

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.

 

D. Wilayah Aplikasi Psikologi

Wilayah Aplikasi psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah aplikasi ini rancu. misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.

1. Psikologi pendidikan

Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.

2. Psikologi sekolah

Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.

3. Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya.

4. Psikologi Kerekayasaan

Penerapan Psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error).

5. Psikologi Klinis

Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.

Salah Kaprah Tentang Psikologi :

1. Psikologi Bukan Ilmu Pengetahuan

Psikologi telah memiliki syarat untuk dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan terlepas dari Filsafat. (Syarat Ilmu Pengetahuan: Memiliki Objek (Tingkah laku), memiliki Metode Penelitian (sejak laboratorium Wundt didirikan psikologi telah membuktikan memiliki Metode Ilmiah),sistematis,dan bersifat universal.

2. Salah Penggolongan

Berbagai hal yang berbau kepribadian sering dimasukan kedalam psikologi, semisal: ramalan-ramalan seputar kepribadian (palmistry, chirology, dll.) sehingga terbentuk pandangan tentang psikologi bukanlah ilmu pengetahuan.

3. Terjebak Dengan Kata Psikotes

Psikologi bukan hanya psikotes, tetapi inilah bagian dari psikologi yang paling populer di masyarakat. banyak kalangan yang sinis dengan psikologi karena psikotes, bagaimana psikolog dapat memvonis potensi seseorang dengan hanya selembar test? tidak, masih banyak metode lain yang dapat digunakan, akan tetapi (misalkan dalam test lamaran pekerjaan) sangat tidak mungkin menerapkan semua metode yang dimiliki psikologi dalam waktu yang sempit dan klien yang banyak.

 

4. Psikologi Melakukan De-humanisasi

Kebalikannya, psikologi memandang setiap individu adalah unik, bahkan psikotes dilakukan untuk lebih memahami keunikan dari setiap individu. Justru, kalangan yang menyamaratakan setiap individu secara tidak langsung memvonis manusia adalah robot (dehumanisasi) yang tidak memiliki keunikan satu sama lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Proses komunikasi dalam perspektif psikologis terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika seorang komunikator berminat akan menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Psikologi menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi.

B. Saran

Semoga pembahasan tentang Psikologi Komunikasi dapat memberikan manfaat khususnya bagi kita semua. Tulisan ini di tujukan untuk pembelajaran semata sehingga sangat di harapkan kritik dan sarannya. Apabila banyak kekurangan yang terdapat dalam penulisan maupun penjelasan harap di maklumi.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Komunikasi Massa Dalam Budaya

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Pada kenyataannya komunikasi tidak semudah yang diduga. Kegagalan memahami pesan verbal ataupun nonverbal bahkan dapat mengakibatkan sebuah bencana. Memang banyak orang menganggap komunikasi itu mudah. Karena ada kesan enteng itu tidak mengherankan bila sebagian orang enggan menpeljari bidang ini.

Sesungguhnya komunikasi sangatlah penting dalam kehidupan dan cukuplah harus untuk lebih mempelajari secara lebih mendalam. Demikian pula dalam masalah pembangunan khususnya pembangunan kebudayaan. Komunikasi yang baik dan benar akan membuat suatu pembangunan menjadi lancer. Demikian pula dapat diketahui bagaimana mata rantai antar komunikasi yang diterima melalui berbagai media dengan struktur yang ada di masyarakat. Faktor inilah yang akhirnya akan menentukan bagaimana pelaksanaan atau kenyataan dari komunikasi di daerah yang bersangkutan.

Komunikasi dan kebudayaan merupakan suatu hal yang berbeda, akan tetapi sangatlah penting bila kebudayaan dipertahankan ataupun dikembangkan melalui jalan komunikasi. Salah satu caranya dengan memenfaatkan komunikasi massa sebagai media untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan, salah satunya kebudayaan perwayangan. Kebudayaan perwayangan saat ini sudah mulai dilupakan oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu perlunya ada tindakan nyata dari berbagai pihak dan komunikasi massalah yang memiliki peran cukup dominan dalam hal ini karena dapat direpresansikan ke seluruh lapisan masyarakat pada saat ini.

 

 

I.2. Tujuan Penulisan

  • Memberikan inforamsi kepada pembaca tentang komunikasi massa.
  • Memberikan informasi kepada pembaca tentang kebudayaan perwayangan.
  • Memberikan informasi kepada pembaca tentang peranan komunikasi massa dalam pembangunan kebudayaan perwayangan.

I.3. Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat diidentifikasikan masalahnya yaitu:

  • Komunikasi massa
  • Peran komunkasi massa
  • Kebudayaan perwayangan
  • Pembangunan kebudayaan perwayangan

I.4. Dasar Teori

Istilah komunikasi massa pertama kali dipopulerkan oleh Melvin N. De Fleur dalam bukunya “Theories of Mass Communication” yang menyebutkan bahwa:

Masalah yang penting dalam teori komunikasi massa adalah bagaimana mengukur pengaruh (effect) komunikasi terhadap kehidupan masyarakat (London, 1966)

Teori ini mencangkup keseluruhan masalah yang dibahas dalam makalah ini sehingga memudahkan dalam penyusunan makalah sebagaimana dibutuhkan adanya peran serta komunikasi massa dalam pengembanagan kebudayaan.

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Konteks-Konteks Komunikasi

Komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa inggris, mass communication yang berate menggunakan media massa. Istilah mass communication atau communication diartikan sebagai salurannya, yaitu media masssa sebagai kependekan dari media of communicfation. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus ber\ada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi dan dalam waktu yang sama atau hamper bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama.

Ciri-ciri komunikasi massa adalah sebagai berikut:

  • Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis.
  • Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi.
  • Bersifat terbuka.
  • Publiknya tersebar.

Komunikator dalam proses komunikasi massa selai merupakan sumber pesan, mereka juga berperan sebagai gate keeper yaitu  berperan untuk menanbah mengurangi, menyederhanakan ,mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami oleh publik. Hal ini dipengaruhi oleh ekonomi, pembatasan legal, batas waktu, etika pribadi, profesionalitas, kompetisi diantara media dan nilai berita.

Dengan demikaian komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah audience yang tersebar, herterogaen, dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesat.

II.2. Peran Media Massa Terhadap Kebudayaan

Peranan media massa dalam pembangunan terutama pembangunan kebudayaan adalah sebagai agen pembaharu (agent of social change). Letak peranannya dalam membantu masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat modern. Jenis perubahan yang diinginkan oleh dsebagian besar bangsa-bangsa adalah perubahan yang lebih cepat daripada perubahan sejarah, lebih lunak daripada proses perubahan yang dipaksakan. Sikap paksaan dalam pembangunan diganti oleh sikap membujuk dan memberikan kesempatan partisipasi pada setiap anggota masyarakat. Setiap bangsa yang ingin meningkatkan proses pembangunan kebudayaan harus menyadarkan seluruh masyarakat akan arti pentingya pembanguanan serta membantumasyarakat mengenal kebiassan-kebiasaan baru secara lancer sehingga mereka dapat merasakan hasilnya.

Salah satu alasan yang menyebabkan sulitnya merubah kebiasaan lama maupun memperkenalkan cara-cara baru adalah eratnya hal-hal tersebut dengan kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda. Oleh sebab itu, berbicara soal perubahan, kita harus berbicara mengenai perubahan apa yang dibawakannya bagi seluruh nasyarakat. Persoalan yang erat hubungannya dengan ikatan budaya dalam proses pembaharuan adalah mengusahakan agar setiap aspek perubahan budaya harus ditempatkan pada suatu dasar pemikiran yang luas agar dapat menyesuaikan diri dengan pengaruh-pengaruh yang timbul serta usaha-usaha mempertahankan nilai-nilai budaya yang bermanfaat.

Orang-orangyang hidup dalam suatu masyarakat dimana media telah berperan sebagai bagian darikehidupan mereka, seiring melupakan bahwa banyak pelajaran yangf mereka peroleh lewat media. Tatkala surat kabar, televisi, radio bahkan intrnet mulai merambah luas, nedia ini berperan sebagai sumber berita utama bagi segala peristiwa. Seluruh generasi manusia membentuk pendapat mereka tentang masalah_masalah yang muncul sebagai dari hasil yang mereka pelajari.

II.3. Khalayak Media Massa

Mengapa orang-orang memberikan perhatian kepada media? Jawaban sinis akan mengatakan karena orang-orang itu tidak bias menghindari media. Jawaban yang lebih akurat akan menjelaskan bahwa media massa diperhatikan karena dapat memuaskan kebutahan atau keinginan-keinginan khalayaknya. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah muncul berbagai penelitian, sayangnya jumlah itu belum begitu banyak. Ketika semua media bersaing menampilkan kualitas penyajian informasi secara lebih baik maka tinggallah bagaimana semua khalayak memilih media mana yang dijadikan sumber menerima informasi tersebut.

II.3.1. Media Cetak

Pernyataan bahwa orang membaca koran untuk memperoleh informasi memang tidak salah, namun terlalu sederhana. Seseorang ingin tahu sesuatu karena berbagai alasan: untuk meraih prestise, mnghilangkan kebosanan, agar merasa lebih dekat dengan lingkungannya atau untuk menyesuaikan perananya dalam masyarakat. Bagi sebagian orang, media cetak merupakan sumber informasi dan gagasantentang berbagai masalah publik yang serius. Mereka memerlukan tidak hnya beritanya, namun juga penafsirannya atau pendapat-pendapat pada tajuk rencana untuk membantunya merumuskan pendapat sendiri. Namun banyak juga yang menjadikan media cetak sebagai alat untuk membuatnya merasa serbatahu. Media cetak merupakan sarana wisata yang murah untuk sejenak melupakan rasa frustasi, rasa tertekan dan kebosanan. Lebih dari itu, media cetak merupakan alat yang secara social dapat diterima.

II.3.2. Media Elektronik

Radio dan televisi juga punya banyak fungsi sosial. Untuk kontak sosial, rujukan kehidupan sehari-hari, untuk menyenangkan diri sendiri, melepas kebosanan dan sebagainya. Sangatlah tidak sulit untuk memehami informasi yang tersaji dalam media elektronik. Pertama, adalah keinginan di kalangan pemirsa atau khalayak itu untuk ditenangkan dengan bujukan bahwa segala sesuatu baik-baik saja. Kedua, mereka bisa mengalihkan kesalahan atas terjadinyasuatu masalahg ke pihak lain. Ketiga, mereka ingin mendengar saran-saran gampang untuk merasa lebih bahagia. Rasional atau tidak, itulah yang dirasakan jutaan pendengar radio dan pemirsa televisi.

II.4 KOMUNIKASI MASSA DALAM PEREWAYANGAN MASYARAKAT JAWA

II.4.1 Wayang Purwa

Wayang purwa, yang paling terkenal di antara kesenian Indonesia, di sini didefinisikan sebagai sebagai “bentuk seni pertunjukan yang menggunakan boneka dari kulit serta mnyajikan cerita yang pada mulanya berasal dari kepahlawanan Hindu: Ramayana dan Mahabhrata“. Bagian pertama dari definisi itu membedakan wayang purwa dari seni pertunjukan lainnya yang menyajikan cerita yang sama tetapi tidak menggunakan boneka kulit sebagaia “aktor dan aktris”-nya, misalnya wayang golek Sunda di Jawa Barat dan wayang orang. Wayang golek menggunakan boneka kayu tiga dimensi, sedangkan wayang orang diperankan oleh manusia. Istilah wayang sendiri berarti bayangan, tetapi dalam kisaran waktuini juga berarti pertunjukan.

Bagian kedua dari definisi itu membedakan wayang purwa dari jenis wayang yang lain, yang meskipun menggunaka boneka dari kulit (dalam bentuk apapun). Tidak menyajikan cerita yang berasal dari kedua cerita kepahlawanan Hindu tersebut . Dibandingkan dengan bentuk wayang yang lain, wayang purwalah yang paling terkenal, sedang jenis wayang yang lain dianggap sebagai bentuk kesenian yang “mati”.

 

 

II.4.2 Wayang Purwa Sebagai Sarana Pembangunan

Masyarakat jaman modern cenderung melihat tradisi serta perwujudan dari segi negatifnya. Mereka menganggap sebagai penghalang laju kemajuan, membelenggu tingkah laku manusia yang selalu mencoba bergerak ke depan dalam rangka mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Di mata orang-orang modern, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar di negara yang sedang berkembang, trdisi dihubungkan dengan keterbelakangan dan nilai-nilai kebudayaan yang kolot yang harus dikesampingkan kalau mereka ingin negeri mereka berkembang dan bersaing dengan baik di dunia modern ini.

Wayang purwa dapat menjembatani jurang pemisah antara penduduk kota dan pedesaan, antara penduduk kota yang maju dan penduduk desa yang terpelajar. Saat ini jika ditilik dengan cermat, media massa dapat berperan penting sebagai sarana pembangunan yantg kuat, terutama disebabkan karena surat kabarsudah trsebar luas seperti yang diharapkan. Walaupun tidak dapat dipungkiri media massa terutama media cetak hanya tersebar di kota-kota besar saja. Media massa yang lain pun telah memberikan gambaran yang lebih baik. Berkat kemajuan teknologi yang sangat pesat, orang-orang yang tinggal di daerah terpencilpun dapat menikmati media elektronik yang ada.

Sejalan dengan itu wayang purwa dengan ceritanyayang samgat terkenal, bersama dengan bentu-bentuk media tradisional lain seperti wayang golek Sunda, wayang Bali, wayang orang dan sebagainya, benar-benar tertanam dalam hati masyarakat sebagai kerangka referensi budaya yang dikenal. Disbanding dengan gedung-gedung biskop yang jumlahnya masih kurang apalagi di pedesaan-pedesaan, dalang wayang purwa yang berjumlah 20.000 dapat dengan ebih baik menjangkau masyarakat, karena mayang purwa menyampaikan pesan-pesan yang dikandungnya serta relevan dengan kerangka kebudayaan yang dikenal.

 

II.4.3 Komunitas Perwayangan Melalui Media Massa

Sejak tahun enam puluhan, stasiun-stasiun radio telah dan masih menyiarkan dengan tetap pertunjukan wayang purwa. Stasiun-stsiun radio di Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta secara bergiliran menyiarkan pertunjukan wayang purwa semalam suntuk setiap minggu.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah wayang purwa sebagai suatu bentuk seni tradisional, dapat menyampaikan gagasan serta konsep baru? Dengan kata lain dapatkah wayang purwa berfungsi sebagai sarana pembangunan dan modernisasi?

Jawabannya adalah “ya”, karena wayang purwa dalam kisaran waktu telah menyisipkan perubahan-perubahan dalam bahasa dan agama, dan telah memperbaiki ceritanya. Lebih lanjut melalui adegan lawaknya, dalang selalu dapat memasukkan ide- modern dalam lelucon, percakapan dan nyanyian karena adegan ini tidak terikat oleh peraturan-peraturan yag kaku yang menikmati pertunjukan wayang dengan dalang yang terkenal, yang disiarkan melalui radio ataupun televisi ke seluruh tanah air, di mana pelawak-pelawak tradisional mengadakan pembicaraan yang berbobot menyangkut kehidupan sosial pada saat itu.

Wayang purwa dapat menjadi penghubung antara pandangan-pandangan yang sangat berbeda diantara penduduk desa dan kota. Wayang purwa dapat membantu mengurangi lebarnya jurang pemisah komunikasi, mencegah adanya perpecahan dalam masyarakat yang sangat membutuhkan suatu usaha bersama menuju keberhasilan pembangunan kebudayaan perwayangan.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Hubungan yang saling berpengaruh antara masyarakat dan media massa sudah berlangsung sejak lama. Begitu pula dengan pembangunan masyarakat di Indonesia. Adanya hambatan dari faktor-faktor non ekonomis tidak mampu memecahkan masalah pembangunan secara menyeluruh. Sikap mental masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan umumnya belum siap untuk pembangunan. Disinilah peran serta komunikasi massa yang memegang peranan dalam pembangunan sosial budaya Indonesia. Pembangunan yang efektif tentunya tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya yang telah menjadi ciri khas daripada suatu bangsa. Semakin tingginya tingkat perkembangan media massa pada saat ini haruslah menjadi tonggak pemacu kebudayaan yang ada pula, janganlah malah mengorbankan nilai-nilai budaya yang telah menjadi cermin suatu bangsa kita. Disimak lebih mendalam, rentetan peran serta media massa dalam peningkatan program siaran, presentase publik yang membaca sebuah media, atau jumlah penonton bioskop dapat disisipkan dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada sebagai alat pembelajaran terutama bagi generasi muda unuk lebih mengetahui betapa pentingya kebudayaan dalam menjalani berbagai aspek kehidupan karena di dalamnya itu semua telah mengandung suatu konsep yang mengajarkan menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur serta dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain tentunya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Depari, Edward dan Collin Mac Andrews 1985, Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan, Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Koentjaraningrat 1981, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Bandung: Srikandi Media.

Rivers, William L. dan Jay W. Jensen 2004, Media Massa dan Masyarakat Modern, Jakarta: Prenada Media

Rogers, Everett M. dan F. Floyd Shoemaker 1971, Comminication of Innovation, New York: The Free Press

Soedjatmoko 1986, Dimensi Manusia dalam Pembangunan, Jakarta: LP3S

Mulyana, Deddy 2008, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Jakarta: Gramedia Indonesia